{"id":2115,"date":"2025-05-23T17:30:18","date_gmt":"2025-05-23T10:30:18","guid":{"rendered":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2115"},"modified":"2025-05-24T01:29:38","modified_gmt":"2025-05-23T18:29:38","slug":"merawat-tradisi-menjawab-zaman-dialog-nasional-pai-unj-dan-uniib-gali-masa-depan-pendidikan-islam-di-banyuwangi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2115","title":{"rendered":"Merawat Tradisi, Menjawab Zaman: Dialog Nasional PAI UNJ dan UNIIB Gali Masa Depan Pendidikan Islam di Banyuwangi"},"content":{"rendered":"\n<p>Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama Universitas Islam Ibrahimy (UNIIB) Banyuwangi menggelar <em>Dialog Nasional<\/em> bertajuk <em>\u201cTantangan dan Peluang Pengelolaan Institusi Pendidikan Islam di Banyuwangi dalam Menghadapi Modernisasi.\u201d<\/em> Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Mahasiswa PAI UNJ di Bumi Blambangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Acara yang dikemas dalam suasana ilmiah dan budaya ini mempertemukan akademisi, seniman, serta tokoh masyarakat lokal. Mereka berdialog membahas masa depan pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga akar tradisi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sari Narulita<\/strong>, selaku Korprodi PAI UNJ dan Ketua Umum Asosiasi Prodi Pendidikan Keagamaan Islam di Perguruan Tinggi Umum, membuka dialog dengan menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cPendidikan yang baik adalah yang membentuk manusia secara utuh. Kita tidak bisa hanya membangun akal, tanpa membangun akar. Kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam membumikan nilai-nilai Islam secara kontekstual.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Senada dengan itu, <strong>Wakil Rektor I UNIIB, Ahmad Aziz Fanani<\/strong>, menyampaikan bahwa kurikulum pendidikan Islam perlu dikembangkan secara adaptif.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cKurikulum yang menyatu dengan kearifan lokal akan membentuk karakter dan identitas yang kuat.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Sementara itu, <strong>Imam Mashuri<\/strong>, Ketua Prodi PAI Tarbiyah UNIIB, memaparkan realitas pendidikan karakter di Banyuwangi yang ditopang oleh keberadaan pesantren dan madrasah.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cNamun kita juga menghadapi tantangan serius seperti keterbatasan teknologi, minimnya integrasi antara nilai agama dan kemajuan zaman, serta krisis identitas generasi muda. Butuh strategi yang konkret\u2014penguatan kurikulum, pemanfaatan teknologi, serta pelibatan orang tua dan masyarakat.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Tak hanya dari dunia akademik, nilai-nilai pendidikan juga disuarakan lewat budaya. <strong>Adi Purwadi<\/strong>, pelestari tradisi <em>mocoan<\/em> Lontar Yusuf, menyampaikan bahwa pendidikan karakter sebenarnya telah lama hidup dalam naskah-naskah lokal.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cLontar Yusuf mengajarkan etika berdoa yang lembut dan hati yang bersih.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Budaya lain seperti <em>pencak sumping<\/em> yang diperkenalkan oleh <strong>Azis Marzuki<\/strong>, dan kesenian <em>Gandrung<\/em> yang dibawakan oleh <strong>Temu Misti<\/strong>, juga menunjukkan bagaimana spiritualitas Islam menyatu dalam praktik seni dan tradisi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari Purnomo<\/strong>, budayawan Banyuwangi, menutup sesi dengan menyampaikan bahwa modernisasi beragama harus bersifat multikultural dan berbasis karakter.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cJika pendidikan mampu merangkul kebudayaan, maka generasi muda tidak hanya cerdas, tapi juga berjiwa\u2014berempati dan mencintai tanah air serta budayanya.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dialog Nasional ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa PAI UNJ untuk menyaksikan langsung bagaimana pendidikan Islam dapat terus hidup dan berkembang di tengah arus perubahan. Banyuwangi pun menjadi cermin bahwa masa depan pendidikan Islam ada pada titik temu antara <strong>agama, budaya, dan kemanusiaan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1600\" height=\"1200\" src=\"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Dialog-Nasional-UNIIB.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2116\"\/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama Universitas Islam Ibrahimy (UNIIB) Banyuwangi menggelar Dialog Nasional bertajuk \u201cTantangan dan Peluang Pengelolaan Institusi Pendidikan Islam di Banyuwangi dalam Menghadapi Modernisasi.\u201d Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Mahasiswa PAI UNJ di Bumi Blambangan. Acara yang dikemas dalam suasana ilmiah dan budaya ini mempertemukan akademisi, seniman, serta tokoh masyarakat lokal. Mereka berdialog membahas masa depan pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga akar tradisi. Sari Narulita, selaku Korprodi PAI UNJ dan Ketua Umum Asosiasi Prodi Pendidikan Keagamaan Islam di Perguruan Tinggi Umum, membuka dialog dengan menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan. \u201cPendidikan yang baik adalah yang membentuk manusia secara utuh. Kita tidak bisa hanya membangun akal, tanpa membangun akar. Kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam membumikan nilai-nilai Islam secara kontekstual.\u201d Senada dengan itu, Wakil Rektor I UNIIB, Ahmad Aziz Fanani, menyampaikan bahwa kurikulum pendidikan Islam perlu dikembangkan secara adaptif. \u201cKurikulum yang menyatu dengan kearifan lokal akan membentuk karakter dan identitas yang kuat.\u201d Sementara itu, Imam Mashuri, Ketua Prodi PAI Tarbiyah UNIIB, memaparkan realitas pendidikan karakter di Banyuwangi yang ditopang oleh keberadaan pesantren dan madrasah. \u201cNamun kita juga menghadapi tantangan serius seperti keterbatasan teknologi, minimnya integrasi antara nilai agama dan kemajuan zaman, serta krisis identitas generasi muda. Butuh strategi yang konkret\u2014penguatan kurikulum, pemanfaatan teknologi, serta pelibatan orang tua dan masyarakat.\u201d Tak hanya dari dunia akademik, nilai-nilai pendidikan juga disuarakan lewat budaya. Adi Purwadi, pelestari tradisi mocoan Lontar Yusuf, menyampaikan bahwa pendidikan karakter sebenarnya telah lama hidup dalam naskah-naskah lokal. \u201cLontar Yusuf mengajarkan etika berdoa yang lembut dan hati yang bersih.\u201d Budaya lain seperti pencak sumping yang diperkenalkan oleh Azis Marzuki, dan kesenian Gandrung yang dibawakan oleh Temu Misti, juga menunjukkan bagaimana spiritualitas Islam menyatu dalam praktik seni dan tradisi masyarakat. Hari Purnomo, budayawan Banyuwangi, menutup sesi dengan menyampaikan bahwa modernisasi beragama harus bersifat multikultural dan berbasis karakter. \u201cJika pendidikan mampu merangkul kebudayaan, maka generasi muda tidak hanya cerdas, tapi juga berjiwa\u2014berempati dan mencintai tanah air serta budayanya.\u201d Dialog Nasional ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa PAI UNJ untuk menyaksikan langsung bagaimana pendidikan Islam dapat terus hidup dan berkembang di tengah arus perubahan. Banyuwangi pun menjadi cermin bahwa masa depan pendidikan Islam ada pada titik temu antara agama, budaya, dan kemanusiaan.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,5],"tags":[],"class_list":["post-2115","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-education-reference","category-religion-spirituality"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2115","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2115"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2115\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2120,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2115\/revisions\/2120"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2115"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2115"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2115"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}