{"id":2843,"date":"2026-05-06T14:43:05","date_gmt":"2026-05-06T07:43:05","guid":{"rendered":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2843"},"modified":"2026-05-10T14:46:00","modified_gmt":"2026-05-10T07:46:00","slug":"dari-ruang-kecil-menuju-kampus-inklusif-prodi-pai-fish-unj-meneguhkan-pendampingan-mahasiswa-disabilitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2843","title":{"rendered":"Dari Ruang Kecil Menuju Kampus Inklusif: Prodi PAI FISH UNJ Meneguhkan Pendampingan Mahasiswa Disabilitas"},"content":{"rendered":"\n<p>Ada banyak ruang kelas di perguruan tinggi. Namun tidak semua ruang benar-benar mampu menghadirkan rasa diterima bagi setiap mahasiswa. Di tengah kesadaran itulah, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) FISH UNJ menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pendampingan Pembelajaran Mahasiswa Disabilitas pada 5 Mei 2026 pukul 10.00 WIB di Ruang Prodi PAI. Sebuah forum yang tidak sekadar membahas hambatan akademik, tetapi juga mempertemukan keberanian untuk mendengar, memahami, dan memperjuangkan pendidikan yang lebih manusiawi.<\/p>\n\n\n\n<p>FGD tersebut dihadiri oleh Koordinator Program Studi PAI FISH UNJ, Dr. Sari Narulita, Pembina Mahasiswa, Ahmad Nur Fahmi, serta Ketua Tim Taskforce Pendampingan Pembelajaran Mahasiswa Disabilitas, Zulfatun Ni&#8217;mah. Hadir pula mahasiswa disabilitas netra dan rungu di lingkungan Prodi PAI yang selama ini menjalani proses pembelajaran dengan berbagai tantangan yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam suasana dialog yang hangat dan terbuka, satu per satu mahasiswa menyampaikan pengalaman mereka. Ada yang harus memfoto materi dari layar presentasi karena dosen belum sempat membagikan PPT. Ada yang kesulitan mengikuti penjelasan saat kelas terlalu bising atau tempo bicara dosen terlalu cepat. Ada pula yang mengalami hambatan dalam mata kuliah statistika, pengolahan data di Excel, hingga praktik software seperti SPSS yang sangat berbasis visual dan bersifat teknis.<\/p>\n\n\n\n<p>Cerita-cerita itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan perjuangan besar untuk tetap bertahan dan berkembang di ruang akademik yang belum sepenuhnya ramah terhadap kebutuhan disabilitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu mahasiswa menyampaikan bahwa tugas dalam bentuk audio atau video jauh lebih membantu dibandingkan tugas tertulis yang terlalu kaku. Mahasiswa lain mengaku harus belajar mandiri melalui YouTube dan bantuan Artificial Intelligence (AI) untuk memahami materi praktik yang sulit diakses. Bahkan ada mahasiswa yang belum terbiasa mengetik menggunakan laptop karena keterbatasan ekonomi dan akses terhadap perangkat pembelajaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Prodi PAI, suara-suara tersebut bukan keluhan yang harus dihindari, melainkan masukan berharga untuk memperbaiki sistem pembelajaran agar semakin inklusif dan berkeadilan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam forum itu, Dr. Sari Narulita menyampaikan bahwa sebelumnya pendampingan mahasiswa disabilitas dilakukan secara personal dan belum terstruktur. Karena itu, Prodi PAI membentuk tim taskforce khusus agar sistem pendampingan memiliki arah yang jelas, terdokumentasi, dan dapat dievaluasi secara berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu mendorong lahirnya Standar Operasional Prosedur (SOP) pembelajaran inklusif yang lebih adaptif bagi mahasiswa penyandang disabilitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Zulfatun Ni&#8217;mah menegaskan bahwa mahasiswa disabilitas sejatinya mampu memahami konsep dan teori dengan baik, bahkan sering menunjukkan daya kritis yang tinggi. Tantangan terbesar justru terletak pada aspek teknis, visualisasi data, dan model evaluasi yang belum sepenuhnya menyediakan ruang penyesuaian.<\/p>\n\n\n\n<p>FGD ini menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, mulai dari perlunya dosen membagikan materi sebelum kelas, memberikan tambahan waktu ujian, menghadirkan variasi bentuk tugas, hingga memperkuat pelatihan dasar Excel dan statistika bagi mahasiswa disabilitas. Prodi juga merencanakan evaluasi pembelajaran inklusif secara berkala pada awal, tengah, dan akhir semester agar proses pendampingan berjalan lebih terukur dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana Prodi PAI memaknai pendidikan agama Islam bukan hanya sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai praktik nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Dalam perspektif PAI, pendidikan harus mampu menghadirkan kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan dukungan lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, FGD ini juga menjadi bentuk nyata kontribusi Prodi PAI FISH UNJ dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education, melalui penguatan pendidikan inklusif dan akses belajar yang setara bagi seluruh mahasiswa. Di saat yang sama, kegiatan ini selaras dengan SDG 10 tentang Reduced Inequalities melalui upaya mengurangi hambatan akademik, sosial, dan aksesibilitas yang dihadapi mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari ruang diskusi sederhana itu, tumbuh kesadaran penting bahwa pendidikan inklusif tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Ia membutuhkan keberanian untuk mendengarkan pengalaman mahasiswa, kemauan untuk beradaptasi, serta komitmen untuk terus meningkatkan sistem.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebab kampus yang baik bukan hanya kampus yang melahirkan mahasiswa yang cerdas. Tetapi kampus yang memastikan tidak ada satu pun mahasiswa yang merasa berjalan sendirian dalam proses belajarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak ruang kelas di perguruan tinggi. Namun tidak semua ruang benar-benar mampu menghadirkan rasa diterima bagi setiap mahasiswa. Di tengah kesadaran itulah, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) FISH UNJ menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pendampingan Pembelajaran Mahasiswa Disabilitas pada 5 Mei 2026 pukul 10.00 WIB di Ruang Prodi PAI. Sebuah forum yang tidak sekadar membahas hambatan akademik, tetapi juga mempertemukan keberanian untuk mendengar, memahami, dan memperjuangkan pendidikan yang lebih manusiawi. FGD tersebut dihadiri oleh Koordinator Program Studi PAI FISH UNJ, Dr. Sari Narulita, Pembina Mahasiswa, Ahmad Nur Fahmi, serta Ketua Tim Taskforce Pendampingan Pembelajaran Mahasiswa Disabilitas, Zulfatun Ni&#8217;mah. Hadir pula mahasiswa disabilitas netra dan rungu di lingkungan Prodi PAI yang selama ini menjalani proses pembelajaran dengan berbagai tantangan yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang. Dalam suasana dialog yang hangat dan terbuka, satu per satu mahasiswa menyampaikan pengalaman mereka. Ada yang harus memfoto materi dari layar presentasi karena dosen belum sempat membagikan PPT. Ada yang kesulitan mengikuti penjelasan saat kelas terlalu bising atau tempo bicara dosen terlalu cepat. Ada pula yang mengalami hambatan dalam mata kuliah statistika, pengolahan data di Excel, hingga praktik software seperti SPSS yang sangat berbasis visual dan bersifat teknis. Cerita-cerita itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan perjuangan besar untuk tetap bertahan dan berkembang di ruang akademik yang belum sepenuhnya ramah terhadap kebutuhan disabilitas. Salah satu mahasiswa menyampaikan bahwa tugas dalam bentuk audio atau video jauh lebih membantu dibandingkan tugas tertulis yang terlalu kaku. Mahasiswa lain mengaku harus belajar mandiri melalui YouTube dan bantuan Artificial Intelligence (AI) untuk memahami materi praktik yang sulit diakses. Bahkan ada mahasiswa yang belum terbiasa mengetik menggunakan laptop karena keterbatasan ekonomi dan akses terhadap perangkat pembelajaran. Bagi Prodi PAI, suara-suara tersebut bukan keluhan yang harus dihindari, melainkan masukan berharga untuk memperbaiki sistem pembelajaran agar semakin inklusif dan berkeadilan. Dalam forum itu, Dr. Sari Narulita menyampaikan bahwa sebelumnya pendampingan mahasiswa disabilitas dilakukan secara personal dan belum terstruktur. Karena itu, Prodi PAI membentuk tim taskforce khusus agar sistem pendampingan memiliki arah yang jelas, terdokumentasi, dan dapat dievaluasi secara berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu mendorong lahirnya Standar Operasional Prosedur (SOP) pembelajaran inklusif yang lebih adaptif bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Sementara itu, Zulfatun Ni&#8217;mah menegaskan bahwa mahasiswa disabilitas sejatinya mampu memahami konsep dan teori dengan baik, bahkan sering menunjukkan daya kritis yang tinggi. Tantangan terbesar justru terletak pada aspek teknis, visualisasi data, dan model evaluasi yang belum sepenuhnya menyediakan ruang penyesuaian. FGD ini menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, mulai dari perlunya dosen membagikan materi sebelum kelas, memberikan tambahan waktu ujian, menghadirkan variasi bentuk tugas, hingga memperkuat pelatihan dasar Excel dan statistika bagi mahasiswa disabilitas. Prodi juga merencanakan evaluasi pembelajaran inklusif secara berkala pada awal, tengah, dan akhir semester agar proses pendampingan berjalan lebih terukur dan berkelanjutan. Lebih jauh, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana Prodi PAI memaknai pendidikan agama Islam bukan hanya sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai praktik nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Dalam perspektif PAI, pendidikan harus mampu menghadirkan kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan dukungan lebih besar. Karena itu, FGD ini juga menjadi bentuk nyata kontribusi Prodi PAI FISH UNJ dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education, melalui penguatan pendidikan inklusif dan akses belajar yang setara bagi seluruh mahasiswa. Di saat yang sama, kegiatan ini selaras dengan SDG 10 tentang Reduced Inequalities melalui upaya mengurangi hambatan akademik, sosial, dan aksesibilitas yang dihadapi mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi. Dari ruang diskusi sederhana itu, tumbuh kesadaran penting bahwa pendidikan inklusif tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Ia membutuhkan keberanian untuk mendengarkan pengalaman mahasiswa, kemauan untuk beradaptasi, serta komitmen untuk terus meningkatkan sistem. Sebab kampus yang baik bukan hanya kampus yang melahirkan mahasiswa yang cerdas. Tetapi kampus yang memastikan tidak ada satu pun mahasiswa yang merasa berjalan sendirian dalam proses belajarnya.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2844,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"class_list":["post-2843","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-quality-assurance"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2843","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2843"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2843\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2845,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2843\/revisions\/2845"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2844"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2843"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2843"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2843"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}