{"id":2849,"date":"2026-05-12T15:56:44","date_gmt":"2026-05-12T08:56:44","guid":{"rendered":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2849"},"modified":"2026-05-12T15:56:44","modified_gmt":"2026-05-12T08:56:44","slug":"dari-pulau-kecil-menyalakan-masa-depan-indonesia-dosen-pai-fish-unj-bangun-pendidikan-inklusif-religius-dan-berkelanjutan-di-pulau-pari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2849","title":{"rendered":"Dari Pulau Kecil Menyalakan Masa Depan Indonesia: Dosen PAI FISH UNJ Bangun Pendidikan Inklusif, Religius, dan Berkelanjutan di Pulau Pari"},"content":{"rendered":"\n<p>Di tengah hamparan laut Kepulauan Seribu dan deru angin yang mengiringi perjalanan menuju Pulau Pari, tujuh dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (PAI FISH UNJ) membawa lebih dari sekadar agenda pengabdian kepada masyarakat. Mereka membawa gagasan, harapan, dan ikhtiar panjang tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi cahaya perubahan, bahkan dari pulau kecil di ujung utara Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama dua hari, Senin\u2013Selasa, 11\u201312 Mei 2026, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) PAI FISH UNJ berlangsung bersama para guru SD dan SMP di Pulau Pari. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi, sekolah, mahasiswa, dan masyarakat dalam semangat membangun pendidikan yang inklusif, adaptif, religius, serta berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak pagi, rombongan dosen dan mahasiswa bergerak dari Muara Angke menuju Pulau Pari. Perjalanan laut yang ditempuh tidak sekadar menjadi perpindahan geografis, tetapi juga simbol hadirnya perguruan tinggi di tengah masyarakat kepulauan yang selama ini menghadapi beragam tantangan pendidikan, mulai dari keterbatasan akses, kebutuhan penguatan kompetensi guru, hingga tantangan perubahan sosial dan lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan resmi dibuka oleh Koordinator Program Studi PAI FISH UNJ, Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pendidikan di wilayah kepulauan tidak boleh berjalan sendiri. Perguruan tinggi harus hadir bukan hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial yang mampu mendampingi sekolah dalam menghadapi perubahan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Momentum pembukaan semakin bermakna melalui penandatanganan kerja sama antara Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ dengan sekolah di Pulau Pari. Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat pendampingan pendidikan secara berkelanjutan, sekaligus mempertegas komitmen UNJ dalam memperluas dampak tridarma perguruan tinggi hingga ke wilayah kepulauan.<\/p>\n\n\n\n<p>Antusiasme para guru tampak begitu kuat sejak sesi pertama dimulai. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi aktif berdiskusi, bertanya, dan merefleksikan pengalaman mengajar mereka sehari-hari. Kehadiran para dosen terasa seperti ruang penyegaran intelektual sekaligus emosional bagi guru-guru yang selama ini mengabdi di wilayah pesisir dengan segala dinamika dan keterbatasannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari pertama diisi dengan berbagai materi yang menyentuh dimensi karakter, teknologi, dan inovasi pembelajaran. Dr. Izzatul Mardhiah, M.A. membuka sesi penguatan karakter melalui pelatihan metode pembiasaan religius pagi (Morning Spirit) untuk membentuk karakter disiplin dan santun pada siswa. Dalam paparannya, pendidikan karakter tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi juga harus hadir dalam budaya sekolah yang hidup setiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, Mushlihin, M.A. menghadirkan pendekatan pembelajaran STREAM melalui pemanfaatan teknologi membran untuk pengelolaan air wudhu secara sirkular di sekolah kepulauan. Materi ini menarik perhatian peserta karena memperlihatkan bagaimana pendidikan agama dapat diintegrasikan dengan sains, teknologi, seni, dan kepedulian lingkungan secara konkret.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah perkembangan era digital, Ahmad Nur Fahmi, M.Pd. memperkenalkan pemanfaatan media generatif berbasis Artificial Intelligence dalam pengembangan modul PAI dengan pendekatan <em>deep learning<\/em>. Para guru tampak antusias ketika melihat bagaimana teknologi AI dapat membantu menciptakan media pembelajaran yang lebih kreatif, efektif, dan sesuai dengan karakter generasi saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Memasuki hari kedua, isu yang diangkat semakin luas dan strategis. Dr. Rihlah Nur Aulia, M.A. membahas penyusunan kurikulum muatan lokal perubahan iklim untuk mendukung FoLU Net Sink 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Bagi masyarakat kepulauan yang hidup berdampingan langsung dengan laut dan perubahan ekosistem, materi ini terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka. Pendidikan diposisikan bukan hanya sebagai ruang transfer ilmu, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun kesadaran ekologis sejak dini.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Khairil Ikhsan Siregar, Lc., M.A. yang memperkuat literasi hadis dalam pendidikan dan pembelajaran PAI bagi para guru. Setelah itu, Dr. Bina Prima Panggayuh, S.Pd., M.Pd. memaparkan model pembelajaran PAI berbasis moderasi beragama untuk meningkatkan toleransi dan mencegah perundungan di sekolah. Materi ini mendapat perhatian besar dari peserta karena menyentuh kebutuhan nyata dunia pendidikan saat ini: menghadirkan ruang belajar yang aman, damai, dan menghargai keberagaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai penutup, Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si. menghadirkan materi tentang pemetaan kebutuhan dan pendampingan awal dalam pembelajaran PAI inklusif berbasis Universal Design for Learning (UDL). Dalam suasana yang reflektif dan hangat, para guru diajak untuk memahami bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, tumbuh, dan diterima di ruang pendidikan tanpa diskriminasi. Paparan ini menjadi penutup yang kuat sekaligus menyentuh, karena mengingatkan kembali bahwa hakikat pendidikan adalah memanusiakan seluruh peserta didik.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan pengabdian ini secara nyata merepresentasikan komitmen PAI FISH UNJ terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, tujuan ke-10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, tujuan ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, dan tujuan ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih dari sekadar program akademik, kegiatan ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi dapat hadir sebagai penggerak perubahan sosial yang nyata. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut juga belajar secara langsung tentang makna pengabdian, empati sosial, dan pentingnya membangun pendidikan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Di penghujung acara, sesi penyerahan sertifikat dan dokumentasi bersama berlangsung dalam suasana hangat. Senyum para guru, percakapan yang terus mengalir, dan semangat kolaborasi yang tumbuh selama dua hari menjadi tanda bahwa kegiatan ini meninggalkan jejak yang mendalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari Pulau Pari, sebuah pesan penting kembali ditegaskan: perubahan besar pendidikan Indonesia tidak selalu lahir dari kota-kota besar. Ia dapat tumbuh dari pulau kecil, dari ruang kelas sederhana, dan dari para guru yang terus menjaga harapan dengan tulus.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah hamparan laut Kepulauan Seribu dan deru angin yang mengiringi perjalanan menuju Pulau Pari, tujuh dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (PAI FISH UNJ) membawa lebih dari sekadar agenda pengabdian kepada masyarakat. Mereka membawa gagasan, harapan, dan ikhtiar panjang tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi cahaya perubahan, bahkan dari pulau kecil di ujung utara Jakarta. Selama dua hari, Senin\u2013Selasa, 11\u201312 Mei 2026, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) PAI FISH UNJ berlangsung bersama para guru SD dan SMP di Pulau Pari. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi, sekolah, mahasiswa, dan masyarakat dalam semangat membangun pendidikan yang inklusif, adaptif, religius, serta berkelanjutan. Sejak pagi, rombongan dosen dan mahasiswa bergerak dari Muara Angke menuju Pulau Pari. Perjalanan laut yang ditempuh tidak sekadar menjadi perpindahan geografis, tetapi juga simbol hadirnya perguruan tinggi di tengah masyarakat kepulauan yang selama ini menghadapi beragam tantangan pendidikan, mulai dari keterbatasan akses, kebutuhan penguatan kompetensi guru, hingga tantangan perubahan sosial dan lingkungan. Kegiatan resmi dibuka oleh Koordinator Program Studi PAI FISH UNJ, Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pendidikan di wilayah kepulauan tidak boleh berjalan sendiri. Perguruan tinggi harus hadir bukan hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial yang mampu mendampingi sekolah dalam menghadapi perubahan zaman. Momentum pembukaan semakin bermakna melalui penandatanganan kerja sama antara Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ dengan sekolah di Pulau Pari. Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat pendampingan pendidikan secara berkelanjutan, sekaligus mempertegas komitmen UNJ dalam memperluas dampak tridarma perguruan tinggi hingga ke wilayah kepulauan. Antusiasme para guru tampak begitu kuat sejak sesi pertama dimulai. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi aktif berdiskusi, bertanya, dan merefleksikan pengalaman mengajar mereka sehari-hari. Kehadiran para dosen terasa seperti ruang penyegaran intelektual sekaligus emosional bagi guru-guru yang selama ini mengabdi di wilayah pesisir dengan segala dinamika dan keterbatasannya. Hari pertama diisi dengan berbagai materi yang menyentuh dimensi karakter, teknologi, dan inovasi pembelajaran. Dr. Izzatul Mardhiah, M.A. membuka sesi penguatan karakter melalui pelatihan metode pembiasaan religius pagi (Morning Spirit) untuk membentuk karakter disiplin dan santun pada siswa. Dalam paparannya, pendidikan karakter tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi juga harus hadir dalam budaya sekolah yang hidup setiap hari. Selanjutnya, Mushlihin, M.A. menghadirkan pendekatan pembelajaran STREAM melalui pemanfaatan teknologi membran untuk pengelolaan air wudhu secara sirkular di sekolah kepulauan. Materi ini menarik perhatian peserta karena memperlihatkan bagaimana pendidikan agama dapat diintegrasikan dengan sains, teknologi, seni, dan kepedulian lingkungan secara konkret. Di tengah perkembangan era digital, Ahmad Nur Fahmi, M.Pd. memperkenalkan pemanfaatan media generatif berbasis Artificial Intelligence dalam pengembangan modul PAI dengan pendekatan deep learning. Para guru tampak antusias ketika melihat bagaimana teknologi AI dapat membantu menciptakan media pembelajaran yang lebih kreatif, efektif, dan sesuai dengan karakter generasi saat ini. Memasuki hari kedua, isu yang diangkat semakin luas dan strategis. Dr. Rihlah Nur Aulia, M.A. membahas penyusunan kurikulum muatan lokal perubahan iklim untuk mendukung FoLU Net Sink 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Bagi masyarakat kepulauan yang hidup berdampingan langsung dengan laut dan perubahan ekosistem, materi ini terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka. Pendidikan diposisikan bukan hanya sebagai ruang transfer ilmu, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun kesadaran ekologis sejak dini. Kegiatan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Khairil Ikhsan Siregar, Lc., M.A. yang memperkuat literasi hadis dalam pendidikan dan pembelajaran PAI bagi para guru. Setelah itu, Dr. Bina Prima Panggayuh, S.Pd., M.Pd. memaparkan model pembelajaran PAI berbasis moderasi beragama untuk meningkatkan toleransi dan mencegah perundungan di sekolah. Materi ini mendapat perhatian besar dari peserta karena menyentuh kebutuhan nyata dunia pendidikan saat ini: menghadirkan ruang belajar yang aman, damai, dan menghargai keberagaman. Sebagai penutup, Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si. menghadirkan materi tentang pemetaan kebutuhan dan pendampingan awal dalam pembelajaran PAI inklusif berbasis Universal Design for Learning (UDL). Dalam suasana yang reflektif dan hangat, para guru diajak untuk memahami bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, tumbuh, dan diterima di ruang pendidikan tanpa diskriminasi. Paparan ini menjadi penutup yang kuat sekaligus menyentuh, karena mengingatkan kembali bahwa hakikat pendidikan adalah memanusiakan seluruh peserta didik. Kegiatan pengabdian ini secara nyata merepresentasikan komitmen PAI FISH UNJ terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, tujuan ke-10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, tujuan ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, dan tujuan ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Lebih dari sekadar program akademik, kegiatan ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi dapat hadir sebagai penggerak perubahan sosial yang nyata. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut juga belajar secara langsung tentang makna pengabdian, empati sosial, dan pentingnya membangun pendidikan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. Di penghujung acara, sesi penyerahan sertifikat dan dokumentasi bersama berlangsung dalam suasana hangat. Senyum para guru, percakapan yang terus mengalir, dan semangat kolaborasi yang tumbuh selama dua hari menjadi tanda bahwa kegiatan ini meninggalkan jejak yang mendalam. Dari Pulau Pari, sebuah pesan penting kembali ditegaskan: perubahan besar pendidikan Indonesia tidak selalu lahir dari kota-kota besar. Ia dapat tumbuh dari pulau kecil, dari ruang kelas sederhana, dan dari para guru yang terus menjaga harapan dengan tulus.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2851,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17,3],"tags":[],"class_list":["post-2849","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-service","category-education-reference"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2849","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2849"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2849\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2852,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2849\/revisions\/2852"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2851"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2849"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2849"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2849"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}