{"id":2853,"date":"2026-06-05T00:52:00","date_gmt":"2026-06-04T17:52:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2853"},"modified":"2026-06-08T09:31:30","modified_gmt":"2026-06-08T02:31:30","slug":"menjaga-marwah-calon-guru-pai-uji-kompetensi-al-quran-sebagai-ikhtiar-melahirkan-pendidik-yang-siap-mengabdi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2853","title":{"rendered":"Menjaga Marwah Calon Guru PAI: Uji Kompetensi Al-Qur\u2019an sebagai Ikhtiar Melahirkan Pendidik yang Siap Mengabdi"},"content":{"rendered":"\n<p>Menjadi guru Pendidikan Agama Islam bukan hanya tentang menguasai teori, metodologi pembelajaran, atau strategi mengajar di kelas. Di balik itu, terdapat kompetensi dasar yang menjadi ruh seorang calon pendidik PAI, yaitu kemampuan membaca Al-Qur\u2019an dengan baik, benar, dan penuh adab. Kesadaran inilah yang mendorong Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan Uji Kompetensi Al-Qur\u2019an sebagai bagian penting dari persiapan mahasiswa sebelum melaksanakan Praktik Kerja Mahasiswa (PKM) pada Juli 2026 mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Pelaksanaan uji kompetensi yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, 5 Juni 2026, menghadirkan suasana akademik yang khas dan sarat makna. Sebanyak 92 mahasiswa mengikuti proses evaluasi yang dirancang tidak sekadar sebagai pengukuran kemampuan, tetapi juga sebagai upaya pembinaan dan pemetaan kompetensi keagamaan mahasiswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menjamin efektivitas dan objektivitas penilaian, peserta dibagi ke dalam 10 ruang ujian. Setiap ruang didampingi oleh dua orang penguji serta satu panitia dari BEM PAI yang bertugas memastikan kelancaran teknis pelaksanaan. Para penguji terdiri atas dosen-dosen PAI FISH UNJ dan mahasiswa senior yang memiliki kompetensi tahsin Al-Qur\u2019an yang mumpuni. Menariknya, identitas penguji dibuat anonim selama proses berlangsung. Kebijakan ini diterapkan agar mahasiswa dapat lebih fokus menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa dipengaruhi faktor psikologis maupun kedekatan personal dengan penguji.<\/p>\n\n\n\n<p>Ujian dirancang secara komprehensif dengan tingkat kesulitan bertahap, mulai dari kategori mudah, sedang, hingga tinggi. Penilaian berfokus pada tiga aspek utama yang menjadi fondasi kualitas bacaan Al-Qur\u2019an, yakni <em>fashahah<\/em> (ketepatan pelafalan), tajwid, dan kelancaran membaca. Melalui indikator-indikator tersebut, Prodi PAI berupaya memastikan bahwa mahasiswa yang akan terjun ke sekolah dan masyarakat memiliki kemampuan minimal yang layak sebagai calon pendidik agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih dari sekadar proses seleksi, uji kompetensi ini menghadirkan banyak cerita inspiratif. Di antara puluhan peserta, tampak sejumlah mahasiswa yang menunjukkan potensi luar biasa sebagai qari dan qariah. Lantunan ayat yang merdu, penguasaan tajwid yang baik, serta kepercayaan diri yang kuat menjadi potret talenta-talenta Qur\u2019ani yang selama ini mungkin belum banyak terekspos. Temuan ini menjadi modal berharga bagi Prodi PAI untuk terus mengembangkan ruang pembinaan dan penguatan bakat mahasiswa di bidang seni baca Al-Qur\u2019an.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun pada saat yang sama, proses ini juga memberikan gambaran yang jujur tentang kebutuhan pembinaan yang masih harus dilakukan. Beberapa mahasiswa menunjukkan adanya aspek-aspek yang perlu diperkuat, baik dari sisi ketepatan makhraj, penerapan hukum tajwid, maupun kelancaran membaca. Bagi Prodi PAI, temuan tersebut bukanlah kegagalan, melainkan titik awal untuk melakukan pendampingan yang lebih terarah.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, mahasiswa yang belum memenuhi standar kelulusan tidak serta-merta ditinggalkan. Sebagai bagian dari komitmen pembinaan berkelanjutan, Prodi PAI memberikan kesempatan remedial yang akan dilaksanakan pada awal Juli 2026. Langkah ini mencerminkan semangat bahwa setiap mahasiswa memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan mencapai kompetensi yang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Atmosfer kekeluargaan dan kepedulian yang menjadi ciri khas Prodi PAI FISH UNJ terasa begitu kuat sepanjang pelaksanaan kegiatan. Dosen, mahasiswa senior, pengurus BEM, dan peserta hadir dalam satu semangat yang sama: memastikan bahwa calon guru PAI tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga siap menjadi teladan dalam kehidupan beragama.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan ini juga selaras dengan agenda <em>Sustainable Development Goals<\/em> (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang <em>Quality Education<\/em> (Pendidikan Berkualitas). Uji kompetensi Al-Qur\u2019an menjadi bagian dari upaya menjamin mutu lulusan melalui proses asesmen yang terukur dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung penguatan kualitas sumber daya manusia yang berkarakter, religius, dan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, Uji Kompetensi Al-Qur\u2019an bukan sekadar agenda rutin menjelang PKM. Ia merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga marwah calon guru PAI, memastikan bahwa setiap mahasiswa yang akan hadir di sekolah-sekolah dan ruang-ruang pengabdian masyarakat membawa bekal yang memadai, baik dari sisi ilmu, akhlak, maupun kemampuan membaca Kalamullah. Dari ruang-ruang virtual yang sederhana, lahir harapan besar agar para mahasiswa PAI FISH UNJ kelak mampu menjadi pendidik yang tidak hanya mengajarkan Al-Qur\u2019an, tetapi juga menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi guru Pendidikan Agama Islam bukan hanya tentang menguasai teori, metodologi pembelajaran, atau strategi mengajar di kelas. Di balik itu, terdapat kompetensi dasar yang menjadi ruh seorang calon pendidik PAI, yaitu kemampuan membaca Al-Qur\u2019an dengan baik, benar, dan penuh adab. Kesadaran inilah yang mendorong Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan Uji Kompetensi Al-Qur\u2019an sebagai bagian penting dari persiapan mahasiswa sebelum melaksanakan Praktik Kerja Mahasiswa (PKM) pada Juli 2026 mendatang. Pelaksanaan uji kompetensi yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, 5 Juni 2026, menghadirkan suasana akademik yang khas dan sarat makna. Sebanyak 92 mahasiswa mengikuti proses evaluasi yang dirancang tidak sekadar sebagai pengukuran kemampuan, tetapi juga sebagai upaya pembinaan dan pemetaan kompetensi keagamaan mahasiswa. Untuk menjamin efektivitas dan objektivitas penilaian, peserta dibagi ke dalam 10 ruang ujian. Setiap ruang didampingi oleh dua orang penguji serta satu panitia dari BEM PAI yang bertugas memastikan kelancaran teknis pelaksanaan. Para penguji terdiri atas dosen-dosen PAI FISH UNJ dan mahasiswa senior yang memiliki kompetensi tahsin Al-Qur\u2019an yang mumpuni. Menariknya, identitas penguji dibuat anonim selama proses berlangsung. Kebijakan ini diterapkan agar mahasiswa dapat lebih fokus menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa dipengaruhi faktor psikologis maupun kedekatan personal dengan penguji. Ujian dirancang secara komprehensif dengan tingkat kesulitan bertahap, mulai dari kategori mudah, sedang, hingga tinggi. Penilaian berfokus pada tiga aspek utama yang menjadi fondasi kualitas bacaan Al-Qur\u2019an, yakni fashahah (ketepatan pelafalan), tajwid, dan kelancaran membaca. Melalui indikator-indikator tersebut, Prodi PAI berupaya memastikan bahwa mahasiswa yang akan terjun ke sekolah dan masyarakat memiliki kemampuan minimal yang layak sebagai calon pendidik agama. Lebih dari sekadar proses seleksi, uji kompetensi ini menghadirkan banyak cerita inspiratif. Di antara puluhan peserta, tampak sejumlah mahasiswa yang menunjukkan potensi luar biasa sebagai qari dan qariah. Lantunan ayat yang merdu, penguasaan tajwid yang baik, serta kepercayaan diri yang kuat menjadi potret talenta-talenta Qur\u2019ani yang selama ini mungkin belum banyak terekspos. Temuan ini menjadi modal berharga bagi Prodi PAI untuk terus mengembangkan ruang pembinaan dan penguatan bakat mahasiswa di bidang seni baca Al-Qur\u2019an. Namun pada saat yang sama, proses ini juga memberikan gambaran yang jujur tentang kebutuhan pembinaan yang masih harus dilakukan. Beberapa mahasiswa menunjukkan adanya aspek-aspek yang perlu diperkuat, baik dari sisi ketepatan makhraj, penerapan hukum tajwid, maupun kelancaran membaca. Bagi Prodi PAI, temuan tersebut bukanlah kegagalan, melainkan titik awal untuk melakukan pendampingan yang lebih terarah. Karena itu, mahasiswa yang belum memenuhi standar kelulusan tidak serta-merta ditinggalkan. Sebagai bagian dari komitmen pembinaan berkelanjutan, Prodi PAI memberikan kesempatan remedial yang akan dilaksanakan pada awal Juli 2026. Langkah ini mencerminkan semangat bahwa setiap mahasiswa memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan mencapai kompetensi yang diharapkan. Atmosfer kekeluargaan dan kepedulian yang menjadi ciri khas Prodi PAI FISH UNJ terasa begitu kuat sepanjang pelaksanaan kegiatan. Dosen, mahasiswa senior, pengurus BEM, dan peserta hadir dalam satu semangat yang sama: memastikan bahwa calon guru PAI tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga siap menjadi teladan dalam kehidupan beragama. Dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan ini juga selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Quality Education (Pendidikan Berkualitas). Uji kompetensi Al-Qur\u2019an menjadi bagian dari upaya menjamin mutu lulusan melalui proses asesmen yang terukur dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung penguatan kualitas sumber daya manusia yang berkarakter, religius, dan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pada akhirnya, Uji Kompetensi Al-Qur\u2019an bukan sekadar agenda rutin menjelang PKM. Ia merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga marwah calon guru PAI, memastikan bahwa setiap mahasiswa yang akan hadir di sekolah-sekolah dan ruang-ruang pengabdian masyarakat membawa bekal yang memadai, baik dari sisi ilmu, akhlak, maupun kemampuan membaca Kalamullah. Dari ruang-ruang virtual yang sederhana, lahir harapan besar agar para mahasiswa PAI FISH UNJ kelak mampu menjadi pendidik yang tidak hanya mengajarkan Al-Qur\u2019an, tetapi juga menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2854,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"class_list":["post-2853","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-quality-assurance"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2853","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2853"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2853\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2855,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2853\/revisions\/2855"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2854"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2853"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2853"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2853"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}