{"id":2913,"date":"2026-07-15T09:39:27","date_gmt":"2026-07-15T02:39:27","guid":{"rendered":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2913"},"modified":"2026-07-15T09:39:28","modified_gmt":"2026-07-15T02:39:28","slug":"beyond-language-becoming-a-teacher-dosen-pai-unj-ajak-mahasiswa-ipai-upi-menemukan-suara-dan-masa-depan-profesional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/?p=2913","title":{"rendered":"Beyond Language, Becoming a Teacher: Dosen PAI UNJ Ajak Mahasiswa IPAI UPI Menemukan Suara dan Masa Depan Profesional"},"content":{"rendered":"\n<p>Masa depan seorang guru tidak terbentuk dalam satu malam. Ia tumbuh dari pengalaman belajar, nilai yang diyakini, orang-orang yang ditemui, harapan keluarga, perubahan sosial, hingga keberanian untuk terus bertanya kepada diri sendiri: kelak, saya ingin menjadi pendidik seperti apa?<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan reflektif inilah yang menghidupkan perkuliahan Bahasa Inggris bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), pada Selasa, 14 Juli 2026. Dalam mata kuliah yang diampu oleh Dr. Cucu Surahman, Mushlihin, M.A., dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta (PAI UNJ), hadir sebagai dosen tamu dan berkolaborasi dengan Wu Shaoxue dari Guizhou Normal University, Tiongkok dalam menghadirkan pengalaman belajar yang reflektif, interaktif, dan berwawasan global.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengangkat tema <em>\u201cExploring Future Professional Becoming: IPAI UPI Students Reflect on Their Professional Futures\u201d<\/em>, seluruh proses perkuliahan berlangsung sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Namun, bahasa Inggris dalam pertemuan tersebut tidak hadir sekadar sebagai materi yang harus dipahami melalui struktur kalimat atau hafalan kosakata. Bahasa digunakan secara langsung sebagai medium untuk berpikir, berbicara, bercerita, menulis, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: masa depan mereka sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Mahasiswa mengembangkan kemampuan bahasa Inggris melalui praktik yang nyata dan kontekstual. Mereka menulis refleksi, menyusun cerita, mengungkapkan pengalaman, mendengarkan narasi teman, mendiskusikan beragam perspektif, hingga mempresentasikan hasil pemikiran dalam bahasa Inggris. Dengan cara ini, pembelajaran bahasa berlangsung secara autentik. Mahasiswa tidak sekadar belajar tentang bahasa Inggris, tetapi juga belajar menggunakan bahasa Inggris untuk menyampaikan sesuatu yang bermakna.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka tidak hanya berlatih <em>speaking<\/em> untuk menjawab pertanyaan dosen. Mereka berbicara untuk menyampaikan mimpi dan harapan. Mereka tidak sekadar latihan berbahasa dan menulis. Mereka menulis untuk memetakan perjalanan hidup dan masa depan profesional mereka. Mereka pun tidak hanya mempraktikkan <em>storytelling<\/em>, tetapi belajar menyusun dan menyuarakan cerita tentang siapa diri mereka hari ini serta siapa yang ingin mereka menjadi kelak.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahasa Inggris dipelajari dengan cara menggunakannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendekatan tersebut membuat suasana kelas terasa lebih hidup. Penggunaan bahasa Inggris sepenuhnya tidak menghalangi mahasiswa untuk terlibat. Sebaliknya, mahasiswa menunjukkan antusiasme yang tinggi selama perkuliahan. Mereka aktif mengikuti proses refleksi, berani berbicara, terbuka dalam membagikan cerita, terlibat dalam diskusi kelompok, dan penuh semangat saat mempresentasikan hasil pemikirannya di hadapan kelas. Kesalahan dalam memilih kata atau menyusun kalimat tidak menghentikan komunikasi. Setiap upaya berbicara justru menjadi bagian dari proses belajar dan membangun kepercayaan diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sinilah pembelajaran bahasa menemukan konteksnya yang nyata. Kemampuan berbahasa tidak hanya tumbuh dari pemahaman tentang tata bahasa, tetapi melalui pengalaman menggunakan bahasa untuk berpikir, berinteraksi, dan mengekspresikan gagasan. Ketika topik pembelajaran dekat dengan pengalaman mahasiswa, bahasa tidak lagi terasa sebagai beban akademik. Bahasa menjadi jembatan untuk mengenali diri dan berkomunikasi dengan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Alih-alih membicarakan perencanaan karier melalui daftar pekerjaan dan target profesional yang kaku, Mushlihin dan Wu Shaoxue mengajak mahasiswa untuk memahami masa depan melalui konsep <em>future professional becoming<\/em>. Masa depan profesional dipahami sebagai proses yang terus-menerus untuk bertumbuh, membentuk diri, dan menegosiasikan identitas di tengah beragam relasi serta perubahan dalam kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Identitas profesional seorang guru tidak hadir secara instan ketika seseorang memperoleh gelar sarjana atau pertama kali berdiri di depan kelas. Ia dibentuk oleh pengalaman, aspirasi, tanggung jawab, nilai, hubungan dengan orang lain, serta konteks sosial yang terus berubah. Untuk membuka pemahaman tersebut, kedua dosen terlebih dahulu membagikan perjalanan pendidikan dan profesional mereka. Pengalaman belajar di masa lalu, dinamika perjalanan akademik, serta aspirasi terhadap karier di masa depan menjadi contoh bahwa perjalanan profesional tidak selalu berbentuk garis lurus.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada jalan yang direncanakan. Ada kesempatan yang datang tanpa diduga. Ada keputusan yang berubah karena pengalaman. Ada pula cita-cita yang terus dikonstruksi kembali ketika seseorang semakin mengenal dirinya dan memahami kebutuhan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari titik itulah mahasiswa diajak menjadi penulis bagi cerita masa depannya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui <em>reflective storytelling<\/em>, setiap mahasiswa memetakan orang, institusi, nilai, dan pengalaman yang membentuk gambaran masa depan profesional mereka. Keluarga, agama, universitas, dosen, budaya sekolah, teman sebaya, kondisi ekonomi, perkembangan teknologi, serta aspirasi pribadi hadir sebagai jejaring yang saling berkaitan dalam membentuk bayangan mereka tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam proses menulis, mahasiswa belajar menata gagasan dalam bahasa Inggris. Mereka memilih kata, menyusun kalimat, dan membangun narasi agar pengalaman pribadi dapat dipahami oleh orang lain. Setelah itu, cerita yang telah ditulis tidak berhenti di atas kertas. Mahasiswa membawanya ke dalam percakapan, menceritakannya kepada teman, mendengarkan pengalaman orang lain, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan profesional yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagian mahasiswa melihat profesi guru PAI sebagai panggilan yang ingin mereka perjuangkan. Sebagian lainnya secara terbuka mengakui bahwa mereka masih dalam proses pencarian. Ada impian pribadi yang harus berdialog dengan harapan keluarga. Ada idealisme menjadi pendidik yang bertemu dengan pertimbangan ekonomi. Ada nilai keagamaan yang perlu terus diterjemahkan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, justru dalam ruang antara harapan dan kenyataan itulah proses menjadi seorang profesional berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<p>Mahasiswa kemudian bekerja dalam kelompok kecil untuk membandingkan cerita, menemukan pola yang sama, dan mendiskusikan bagaimana aspirasi profesional mereka dibentuk oleh berbagai relasi. Setiap kelompok selanjutnya mempresentasikan refleksi kolektif kepada kelas. Tanpa disadari, rangkaian kegiatan tersebut membentuk proses pembelajaran bahasa yang utuh: mahasiswa menulis gagasan, menceritakannya, mendengarkan perspektif lain, mendiskusikannya, lalu mempresentasikan hasil pemikiran secara kolaboratif dalam bahasa Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p>Antusiasme mahasiswa terlihat kuat sepanjang proses tersebut. Mereka tidak hanya berani berbicara dalam bahasa Inggris, tetapi juga menunjukkan keterbukaan dalam menyampaikan harapan, dilema, ketidakpastian, serta visi masa depan. Satu cerita bertemu dengan cerita lainnya. Satu pengalaman membuka perspektif baru. Ruang kuliah pun perlahan berubah menjadi ruang perjumpaan antara bahasa, cerita, refleksi, dan masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengalaman pembelajaran ini menegaskan bahwa belajar bahasa Inggris menjadi semakin bermakna ketika bahasa tersebut digunakan untuk membicarakan hal-hal yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Pada saat yang sama, pendidikan calon guru tidak cukup hanya mengajarkan cara mengajar. Perguruan tinggi juga perlu menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk bertanya secara kritis tentang siapa diri mereka sebagai calon pendidik, nilai apa yang ingin mereka perjuangkan, dan kontribusi apa yang ingin mereka berikan melalui profesi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi PAI UNJ, keterlibatan Mushlihin dalam perkuliahan ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperluas kontribusi akademik serta menghadirkan pembelajaran yang reflektif, kontekstual, dan berwawasan global. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa internasional semakin penting bagi calon guru Pendidikan Agama Islam yang hidup dalam ekosistem pendidikan tanpa batas, di tengah perkembangan teknologi dan derasnya pertukaran pengetahuan global.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proyek penelitian kualitatif mengenai <em>Relational Professional Subject Formation<\/em> pada mahasiswa Pendidikan Agama Islam. Melalui wawancara, <em>reflective storytelling<\/em>, diskusi kelompok, dan observasi kelas, penelitian ini berupaya memahami bagaimana calon guru menegosiasikan beragam harapan, nilai, dan tanggung jawab dalam mengonstruksi masa depan profesionalnya dalam konteks pendidikan tinggi kontemporer.<\/p>\n\n\n\n<p>Kolaborasi antara dosen PAI UNJ, IPAI UPI, dan akademisi dari Guizhou Normal University menunjukkan bahwa ruang kelas dapat menjadi titik temu antara perspektif lokal dan global. Perbedaan latar akademik dan perjalanan profesional memperkaya dialog sekaligus menghadirkan pengalaman belajar internasional yang autentik bagi mahasiswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Semangat tersebut selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Quality Education, melalui pembelajaran berkualitas yang mengembangkan kompetensi bahasa, kemampuan komunikasi, refleksi kritis, serta kesiapan profesional calon guru. Kegiatan ini juga mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth melalui penguatan kapasitas mahasiswa dalam membangun masa depan profesional yang adaptif dan bermakna. Sementara itu, kolaborasi akademik antara UNJ, UPI, dan akademisi dari Tiongkok menjadi praktik nyata SDG 17: Partnerships for the Goals, dengan membuka ruang untuk pertukaran pengetahuan, perspektif, serta pengalaman belajar lintas institusi dan lintas negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, perkuliahan Bahasa Inggris hari itu tidak hanya membahas kemampuan menggunakan bahasa asing. Mahasiswa belajar bahasa dengan berbicara, menguatkan kemampuan komunikasi melalui bercerita, menata gagasan melalui tulisan, serta membangun keberanian melalui dialog.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka berbicara dalam bahasa Inggris. Mereka menulis cerita mereka. Mereka mendengarkan satu sama lain. Mereka berdiskusi dengan antusias. Namun, yang paling penting, mereka sedang belajar menemukan suara profesionalnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui kolaborasi akademik dan pembelajaran berwawasan global, PAI UNJ terus memperluas ruang kontribusi dalam mempersiapkan calon pendidik yang reflektif, komunikatif, adaptif, dan siap berdialog dengan dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Because language grows when it is used, and professional identity grows when it is reflected upon. Becoming a teacher means learning to speak, to reflect, and to continuously shape the person you aspire to be.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Kelas-Pak-Mush-1024x768.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2914\" srcset=\"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Kelas-Pak-Mush-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Kelas-Pak-Mush-300x225.jpg 300w, https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Kelas-Pak-Mush-768x576.jpg 768w, https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Kelas-Pak-Mush.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masa depan seorang guru tidak terbentuk dalam satu malam. Ia tumbuh dari pengalaman belajar, nilai yang diyakini, orang-orang yang ditemui, harapan keluarga, perubahan sosial, hingga keberanian untuk terus bertanya kepada diri sendiri: kelak, saya ingin menjadi pendidik seperti apa? Pertanyaan reflektif inilah yang menghidupkan perkuliahan Bahasa Inggris bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), pada Selasa, 14 Juli 2026. Dalam mata kuliah yang diampu oleh Dr. Cucu Surahman, Mushlihin, M.A., dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta (PAI UNJ), hadir sebagai dosen tamu dan berkolaborasi dengan Wu Shaoxue dari Guizhou Normal University, Tiongkok dalam menghadirkan pengalaman belajar yang reflektif, interaktif, dan berwawasan global. Mengangkat tema \u201cExploring Future Professional Becoming: IPAI UPI Students Reflect on Their Professional Futures\u201d, seluruh proses perkuliahan berlangsung sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Namun, bahasa Inggris dalam pertemuan tersebut tidak hadir sekadar sebagai materi yang harus dipahami melalui struktur kalimat atau hafalan kosakata. Bahasa digunakan secara langsung sebagai medium untuk berpikir, berbicara, bercerita, menulis, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: masa depan mereka sendiri. Mahasiswa mengembangkan kemampuan bahasa Inggris melalui praktik yang nyata dan kontekstual. Mereka menulis refleksi, menyusun cerita, mengungkapkan pengalaman, mendengarkan narasi teman, mendiskusikan beragam perspektif, hingga mempresentasikan hasil pemikiran dalam bahasa Inggris. Dengan cara ini, pembelajaran bahasa berlangsung secara autentik. Mahasiswa tidak sekadar belajar tentang bahasa Inggris, tetapi juga belajar menggunakan bahasa Inggris untuk menyampaikan sesuatu yang bermakna. Mereka tidak hanya berlatih speaking untuk menjawab pertanyaan dosen. Mereka berbicara untuk menyampaikan mimpi dan harapan. Mereka tidak sekadar latihan berbahasa dan menulis. Mereka menulis untuk memetakan perjalanan hidup dan masa depan profesional mereka. Mereka pun tidak hanya mempraktikkan storytelling, tetapi belajar menyusun dan menyuarakan cerita tentang siapa diri mereka hari ini serta siapa yang ingin mereka menjadi kelak. Bahasa Inggris dipelajari dengan cara menggunakannya. Pendekatan tersebut membuat suasana kelas terasa lebih hidup. Penggunaan bahasa Inggris sepenuhnya tidak menghalangi mahasiswa untuk terlibat. Sebaliknya, mahasiswa menunjukkan antusiasme yang tinggi selama perkuliahan. Mereka aktif mengikuti proses refleksi, berani berbicara, terbuka dalam membagikan cerita, terlibat dalam diskusi kelompok, dan penuh semangat saat mempresentasikan hasil pemikirannya di hadapan kelas. Kesalahan dalam memilih kata atau menyusun kalimat tidak menghentikan komunikasi. Setiap upaya berbicara justru menjadi bagian dari proses belajar dan membangun kepercayaan diri. Di sinilah pembelajaran bahasa menemukan konteksnya yang nyata. Kemampuan berbahasa tidak hanya tumbuh dari pemahaman tentang tata bahasa, tetapi melalui pengalaman menggunakan bahasa untuk berpikir, berinteraksi, dan mengekspresikan gagasan. Ketika topik pembelajaran dekat dengan pengalaman mahasiswa, bahasa tidak lagi terasa sebagai beban akademik. Bahasa menjadi jembatan untuk mengenali diri dan berkomunikasi dengan orang lain. Alih-alih membicarakan perencanaan karier melalui daftar pekerjaan dan target profesional yang kaku, Mushlihin dan Wu Shaoxue mengajak mahasiswa untuk memahami masa depan melalui konsep future professional becoming. Masa depan profesional dipahami sebagai proses yang terus-menerus untuk bertumbuh, membentuk diri, dan menegosiasikan identitas di tengah beragam relasi serta perubahan dalam kehidupan. Identitas profesional seorang guru tidak hadir secara instan ketika seseorang memperoleh gelar sarjana atau pertama kali berdiri di depan kelas. Ia dibentuk oleh pengalaman, aspirasi, tanggung jawab, nilai, hubungan dengan orang lain, serta konteks sosial yang terus berubah. Untuk membuka pemahaman tersebut, kedua dosen terlebih dahulu membagikan perjalanan pendidikan dan profesional mereka. Pengalaman belajar di masa lalu, dinamika perjalanan akademik, serta aspirasi terhadap karier di masa depan menjadi contoh bahwa perjalanan profesional tidak selalu berbentuk garis lurus. Ada jalan yang direncanakan. Ada kesempatan yang datang tanpa diduga. Ada keputusan yang berubah karena pengalaman. Ada pula cita-cita yang terus dikonstruksi kembali ketika seseorang semakin mengenal dirinya dan memahami kebutuhan masyarakat. Dari titik itulah mahasiswa diajak menjadi penulis bagi cerita masa depannya sendiri. Melalui reflective storytelling, setiap mahasiswa memetakan orang, institusi, nilai, dan pengalaman yang membentuk gambaran masa depan profesional mereka. Keluarga, agama, universitas, dosen, budaya sekolah, teman sebaya, kondisi ekonomi, perkembangan teknologi, serta aspirasi pribadi hadir sebagai jejaring yang saling berkaitan dalam membentuk bayangan mereka tentang masa depan. Dalam proses menulis, mahasiswa belajar menata gagasan dalam bahasa Inggris. Mereka memilih kata, menyusun kalimat, dan membangun narasi agar pengalaman pribadi dapat dipahami oleh orang lain. Setelah itu, cerita yang telah ditulis tidak berhenti di atas kertas. Mahasiswa membawanya ke dalam percakapan, menceritakannya kepada teman, mendengarkan pengalaman orang lain, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan profesional yang berbeda. Sebagian mahasiswa melihat profesi guru PAI sebagai panggilan yang ingin mereka perjuangkan. Sebagian lainnya secara terbuka mengakui bahwa mereka masih dalam proses pencarian. Ada impian pribadi yang harus berdialog dengan harapan keluarga. Ada idealisme menjadi pendidik yang bertemu dengan pertimbangan ekonomi. Ada nilai keagamaan yang perlu terus diterjemahkan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Namun, justru dalam ruang antara harapan dan kenyataan itulah proses menjadi seorang profesional berlangsung. Mahasiswa kemudian bekerja dalam kelompok kecil untuk membandingkan cerita, menemukan pola yang sama, dan mendiskusikan bagaimana aspirasi profesional mereka dibentuk oleh berbagai relasi. Setiap kelompok selanjutnya mempresentasikan refleksi kolektif kepada kelas. Tanpa disadari, rangkaian kegiatan tersebut membentuk proses pembelajaran bahasa yang utuh: mahasiswa menulis gagasan, menceritakannya, mendengarkan perspektif lain, mendiskusikannya, lalu mempresentasikan hasil pemikiran secara kolaboratif dalam bahasa Inggris. Antusiasme mahasiswa terlihat kuat sepanjang proses tersebut. Mereka tidak hanya berani berbicara dalam bahasa Inggris, tetapi juga menunjukkan keterbukaan dalam menyampaikan harapan, dilema, ketidakpastian, serta visi masa depan. Satu cerita bertemu dengan cerita lainnya. Satu pengalaman membuka perspektif baru. Ruang kuliah pun perlahan berubah menjadi ruang perjumpaan antara bahasa, cerita, refleksi, dan masa depan. Pengalaman pembelajaran ini menegaskan bahwa belajar bahasa Inggris menjadi semakin bermakna ketika bahasa tersebut digunakan untuk membicarakan hal-hal yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Pada saat yang sama, pendidikan calon guru tidak cukup hanya mengajarkan cara mengajar. Perguruan tinggi juga perlu menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk bertanya secara kritis tentang siapa diri mereka sebagai calon pendidik, nilai apa yang ingin mereka perjuangkan, dan kontribusi apa yang ingin mereka berikan melalui profesi tersebut. Bagi PAI UNJ, keterlibatan Mushlihin dalam perkuliahan ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperluas kontribusi akademik serta menghadirkan pembelajaran yang reflektif, kontekstual, dan berwawasan global. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa internasional semakin penting bagi calon guru Pendidikan Agama Islam yang<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2914,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17,3,16],"tags":[],"class_list":["post-2913","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-service","category-education-reference","category-quality-assurance"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2913","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2913"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2913\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2915,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2913\/revisions\/2915"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2913"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2913"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fis.unj.ac.id\/boie\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2913"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}