Pengabdian Masyarakat Terintegrasi Dosen Pendidikan Sosiologi Tahun 2021

Pada Bulan September 2021 kemarin, untuk kedua kalinya dilaksanakan pengabdian masyarakat terintegrasi dosen prodi pendidikan sosiologi. Pengabdian masyarakat ini dilakukan oleh tiga orang dosen yakni Dian Rinanta, S.Sos., MAP, Dra. Rosita Adiani, MA dan Devi Septiandini, M.Pd dengan tema besar Peningkatan Kualitas Pembelajaran Sosiologi di Masa Belajar di rumah. Topik – topik yang diangkat yakni diantaranya Pemanfaatan Media Sosial untuk Pembelajaran Sosiologi, Peningkatan Kompetensi Spiritual dan Sosial di Masa Pembelajaran Jarak Jauh dan Pembuatan Bahan Pembelajaran Berbasis Teknologi. Kegiatan ini menjaring sebanyak 40 guru sosiologi lebih baik yang tergabung dalam MGMP Sosiologi DKI Jakarta maupun guru sosiologi di luar Jakarta.
cover-rilis-berita-devi

Kolaborasi Pengabdian Masyarakat Dosen Prodi Pendidikan Sosiologi dan Sosiologi UNJ Bertemakan Peran Keluarga dalam Pencegahan Penularan Covid 19

Pandemi Covid 19 memberikan dampak di segala bidang bagi semua lapisan masyarakat. Pemerintah menerapkan beberapa kebijakan terkait penanganan covid 19 salah satunya adalah pemberlakukan PPKM dari skala mikro sampai dengan makro. Saat ini, peran keluarga tentunya sangat penting mengingat lebih banyak waktu dihabiskan di dalam rumah bersama keluarga. Anak harus banyak di rumah karena sekolah ditutup dan Bapak harus bekerja dari rumah, inilah menujukkan bahwa peran keluarga sangat penting. Melihat hal tersebut dosen pendidikan sosiologi berkolaborasi dengan dosen sosiologi yang diketuai oleh Dr. Evy Clara, M.Si melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di wilayah Rukun Tetangga 004/RW 08 kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur untuk mensosialisasikan pentingnya peran keluarga dalam mengedukasi dan mencegah penularan lebih jauh lagi virus covid 19. Setelah diadakan kegiatan ini diharapkan masyarakat, lewat unit terkecilnya yakni keluarga dapat lebih menjaga protokol kesehatan dan peduli akan sekitarnya.cover-rilis-berita-bu-evy

Dosen Prodi Pendidikan Sosiologi Melakukan Sosialisasi dan Pendampingan Mengenai Varietas Unggul Tanaman Serai Wangi pada Petani di Bogor

Pada bulan Juni 2021 Dosen Prodi Pendidikan Sosiologi yang diketuai oleh Dr. Ciek Julyati Hisyam, MM., M.Si melakukan sosialisasi mengenai varietas unggul tanaman serai wangi kepada para petani Serai Wangi di Desa Sukamakmur, Sentul, Bogor, Jawa Barat. bertujuan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan Serai Wangi dengan memberikan pelatihan dan pendampingan mengenai jenis varietas unggul tanaman Serai Wangi. Luaran dari kegiatan ini diharapkan setelah petani memiliki pengetahuan dan keterampilan menanam Serai Wangi dengan varietas unggul, produktivitas perkebunan mereka semakin meningkat terutama hasil olahan minyak Serai nya atau dikenal dengan Citronella Oil sebagai komoditi utama. Dampak jangka panjangnya, melalui kegiatan ini diharapkan pula, dapat meningkatkan kesejahteraan petani lokal Serai Wangi, membuka lapangan kerja dan menumbuhkan motivasi pada para petani lokal untuk bersaing dengan produk luar negeri.cover-rilis-berita-bu-ciek

PELATIHAN PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN PADA PENGAJAR DI SEKOLAH LAPAS ANAK SALEMBA

Lapas Anak Salemba merupakan tempat pembinaan anak – anak yang bersinggungan dengan hukum.  Anak – anak tersebut tentunya masih berada di bawah bimbingan dan masih membutuhkan pembelajaran. Oleh karena itu, di lapas anak terdapat para pengajar yang memberikan pembelajaran kepada anak – anak tersebut. Permasalahannya adalah para pengajar tersebut tidak memiliki latarbelakang ilmu pendidikan dan tidak mengetahui perangkat pembelajaran di kurikulum 2013.  Perencanaan pembelajaran yang dimaksud adalah berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Abad 21 yang mengintegrasikan nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter, Kemampuan Literasi, dan Kemampuan Berpikir Tingkat Diri (HOTS). Sasaran kegiatan ini adalah pengajar di lapas anak salemba.

Kegiatan dilakukan pada hari Senin dan selasa, tanggal 2-3 Maret 2020. Kegiatan dilakukan sebelum masa pandemi secara klasikal di Ruang Rapat Perpustakaan Lapas Anak Salemba dengan jumlah peserta Sebanyak 15 pengajar. Narasumber yang didatangkan yakni dari UNJ sendiri yakni Dr. Hj. Ciek Julyati Hisyam, MM., M. Si yang menyampaikan materi mengenai pembelajaran abad 21 dan komponen perangkat pembelajarnnya serta materi mengenai rambu – rambu penyusunan soal HOTS. Sedikit materi mengenai pembelajaran di lapas juga di jelaskan oleh kordinator pengajar Lapas Anak.

Garis besar pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menghasilkan beberapa poin sebagai berikut 1). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjalan lancar karena mitra pengabdian yakni Lembaga Pemasyarakat Anak Salemba sangat mendukung. Mitra memfasilitasi dalam hal menjaring peserta kegiatan dan juga memudahkan dalam hal perizinan dan pelaksanaan kegiatan.; 2) Kegiatan pengabdian ini merupakan kegiatan yang amat penting untuk pengajar karena minimnya pelatihan mengenai perencanaan pembelajaran. Selama ini, pelatihan dari perguruan tinggi lebih fokus ke sekolah – sekolah formal bukan ke sekolah di Lapas Anak; 3) Adanya peningkatan kemampuan penyusunan RPP. Hasil presentase ini didapatkan dari hasil penilaian terhadap produk perangkat pembelajaran yang mereka buat. Terutama ketika membandingkan RPP yang sudah mereka buat sebelumnya dengan RPP yang dibuat dari hasil pelatihan dan 4). Faktor pendukung dalam pelaksanaan pelatihan ini diantaranya Kepala Lapas Anak, staff yang bertugas serta para pengajar sangat kooperatif dan menyepakati bahwa kegiatan pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi tenaga pengajar.

 

 

MENINGKATKAN KESADARAN GENDER DAN EDUKASI ANTI KEKERASAN DI KALANGAN REMAJA JAKARTA PUSAT

Pada konteks kekinian, proses pembentukan diri remaja sangat dipengaruhi oleh pelbagai elemen pendidikan yang mereka dapatkan, baik dari lembaga formal (sekolah), non-fomal (lembaga bimbingan belajar), maupun informal (keluarga, teman bermain/peer group, dan media televisi). Kontestasi di antara ketiga elemen pendidikan tersebutlah yang secara signifikan mengawal proses pencarian diri seorang remaja. Hari ini kita dikejutkan oleh kuatnyanya dominasi sosialisasi teman bermain dan budaya masa yang mendasari pendidikan remaja, sehingga pendidikan formal sekolah dan pendidikan informal keluarga nampak kurang optimal mengimbanginya.

Narasi persoalan tentang kekerasan pada perempuan dan kekerasan dalam bentuk tawuran cenderung rentan membayangi wajah kota Jakarta. Sebagaimana dikutip dalam laporan Subdirektorat Statistik Politik dan Keamanan (BPS, 2018) menjelaskan bahwa jumlah kejadian kejahatan terhadap kesusilaan yang dialami perempuan (perkosaan dan pencabulan) di Indonesia mengalami fluktuasi dan cenderung naik kejadiannya dari tahun 2015 hingga 2017. Dari data yang ada dapat diketahui bahwa pada tahun 2015 tercatat sebanyak 5.051 kasus kejadian kejahatan terhadap kesusilaan, dan meningkat kembali pada tahun 2016 menjadi 5.247 kasus. Kemudian jumlah kejahatan meningkat kembali pada tahun 2017 menjadi 5.513 kasus.

Kemudian Fenomena tawuran sebagai bentuk kekerasan terjadi karena beberapa sebab, salah satunya dilatari oleh minimnya monitoring institusi keluarga (Garry, dkk: 1998), institusi sekolah, teman sebaya dan lemahnya moralitas publik dalam mengawal proses perkembangan diri remaja (Kusumadewi, dalam Kompas/16/Mei/2012). Remaja yang dilabelkan sebagai darah muda —yang pada proses masa perkembangannya selalu menuntut cari tahu dari ketidak-tahuannnya, membutuhkan pantauan dan nasihat. Kehidupan remaja identik dengan pencarian identitas diri. Pada konteks ini, remaja seringkali bertindak di luar batas nalar normatif yang ada di dalam masyarakat.

 

Selanjutnya, dalam konteks identifikasi analisasis situasi kami menunjukkan bahwa Kekerasan yang dialami oleh perempuan salah satunya dilatari oleh pemahaman gender yang timpang. Kemudian persoalan kekerasan dalam bentuk tawuran cenderung disebabkan oleh proses pencarian identitas remaja.  Oleh sebab itu, workshop dengan tema “Meningkatkan Kesadaran Gender dan Edukasi Anti Kekerasan di Kalangan Remaja di Jakarta Pusat” yang sudah dilaksanakan ini meliputi pemberian materi dan pelatihan untuk membangun dan menguatkan pemahaman remaja berkaitan dengan kesetaraan gender, dan edukasi anti kekerasan. Berbagai penjelasan kegiatan tersebut merupakan sisi kebaruan dari kegiatan pengabdian masyarakat yang sudah dilakukan pada kali ini.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dari Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta ini bekerjasama dengan tokoh agama (ustad), tokoh pemuda, dan elit informal lokal (ibu Yuningsing sebagai ketua RT), dan kalangan remaja yang tinggal diwilayah yang tidak jauh dari masjid Al Qorieb, tepatnya di gang Sariman Petojo-Utara, Jakarta Pusat. wilayah tersebut dipilih sebagai tempat kegiatan karena sejalan dengan tujuan pengabdian masyarakat yang ingin mengembangkan dan meningkatkan Kesadaran Gender Dan Edukasi anti kekerasan di kalangan remaja perkotaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung secara online pada tanggal 13-15 Oktober 2020.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang disampaikan oleh Dr. Hj. Ikhlasiah Dalimoenthe, M.Si, dkk ini memiliki kontribusi untuk meningkatkan Kesadaran Gender dan Edukasi Anti Kekerasan di Kalangan Remaja yang tinggal di gang Sariman Petojo-Utara, Jakarta Pusat. Selain itu, kegiatan PKM yang kami lakukan juga berguna untuk meningkatkan moralitas publik untuk peka pada persoalan Kesadaran Gender dan Edukasi Anti Kekerasan yang cenderung menjadikan remaja sebagai korban dan pelakunya.

WORKSHOP MENINGKATKAN KESADARAN PENDIDIKAN DIKALANGAN ANAK PUTUS SEKOLAH DI JAKARTA PUSAT

Kebijakan bantuan pendidikan yang diberikan pemerintah bagi masyarakat tidak mampu dapat dilihat sebagai upaya perbaikan disektor pendidikan, utamanya untuk memberikan peluang persamaan kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Bantuan ekonomi dan kesehatan yang diberikan pemerintah diorientasikan untuk meringankan beban pembiayaan pendidikan siswa dari golongan miskin untuk tetap melangsungkan sekolahnya. Namun kebijakan yang hanya bertumpu pada bantuan ekonomi dan kesehatan tersebut juga memunculkan pertanyaan, apakah cukup hanya dengan memberikan bantuan materil dapat memicu siswa miskin untuk berprestasi di sekolah?

Kemudian apakah berbagai kebijakan bantuan pendidikan dapat meringankan beban sekolah dalam memberikan akses kepada siswa miskin untuk tetap bersekolah dan tidak putus sekolah? Tampaknya keberlanjutan anak di arena sekolah masih tetap dibayangi dengan persoala putus sekolah. Realitas ini dapat dilihat dari catatan Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta yang mencatat bahwa sejak tahun 2017 angka penurunan parptisipasi pendidikan di jenjang pendidikan SMA menurun sebesar 5,94 persen. Sedangkan untuk sekolah kejuruan atau SMK angka putus sekolah justru meninggi sebesar 25,28 persen pada periode waktu yang sama  dan angka tersebut justru jauh dari capaian  angka putus sekolah ditingkat SMK secara nasional pada 2017-2018 yang hanya naik 0.88 persen (Tirto.id).

Berdasarkan argumentasi di atas maka pengabdian masyarakat ini penting untuk mengetengahkan kegiatannya dengan tema “Workshop Meningkatkan Kesadaran Pendidikan Dikalangan Anak Putus Sekolah di Jakarta Pusat”. Secara spesifik kegiatan tersebut akan menyampaikan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran pendidikan dikalangan anak putus sekolah, supaya mereka punya minat untuk melanjutkan pendidikannya melalui sekolah paket (PKBM) yang dapat diakses oleh mereka. Selain itu, pengabdian masyarakat ini juga memberikan pengetahuan dan pelayanan untuk anak putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan paket di PKBM terdekat. Penjelasan tersebut merupakan aspek penting dari kebaruan kegiatan pengabdian masyarakat ini.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dari Prodi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta ini bekerjasama dengan tokoh agama (ustad), tokoh pemuda, dan elit informal lokal (ibu Yuningsing sebagai ketua RT), dan kalangan remaja yang tinggal diwilayah yang tidak jauh dari masjid Al Qorieb, tepatnya di gang Sariman Petojo-Utara, Jakarta Pusat. wilayah tersebut dipilih sebagai tempat kegiatan karena terdapat banyak usia anak sekolah dasar dan remaja yang putus sekolah. Oleh sebab itu, lokasi ini dipilih sejalan dengan tujuan pengabdian masyarakat yang ingin meningkatkan kesadaran pendidikan dikalangan anak putus sekolah, supaya mereka punya minat untuk melanjutkan pendidikannya melalui sekolah paket (PKBM) yang dapat diakses oleh mereka. Selain itu, pengabdian masyarakat ini juga memberikan pengetahuan dan pelayanan untuk anak putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan paket di PKBM terdekat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung secara online pada tanggal 13-15 Oktober 2020.

 

Pengabdian Masyarakat Terintegrasi Dosen Prodi Pendidikan Sosiologi UNJ

cover-berita

Sebagai bagian dari Tri dharma Perguruan Tinggi, Program Studi Pendidikan Sosioogi dan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat Terintegrasi. Sasaran peserta dari kegiatan ini yakni guru – guru sosiologi yang tergabung di MGMP Sosiologi DKI Jakarta dan beberapa guru sosiologi dari daerah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 23, 26 dan 27 Oktober 2020. Kegiatan dilakukan sejak pukul 09. 00 sampai dengan pukul 16.00. Lokasi kegiatan dilakukan di rumah masing – masing mengingat masih meningkatnya penyebaran virus Covid 19 dengan dilakukan secara daring melalui platform zoom meeting. Kegiatan dilakukan secara terintegrasi oleh dosen – dosen di program studi pendidikan sosiologi dan program studi sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta.
Narasumber dalam kegiatan pada hari pertama dengan tema Pengembangan Model Pembelajaran Sosiologi dengan Pendekatan Imajinasi Sosiologi disampaikan oleh Abdi Rahmat, M.Si dosen program studi pendidikan sosiologi. Beliau memaparkan bagaimana imajinasi sosiologi C. Wright Mills diterapkan pada siswa untuk memahami sosiologi secara konstekstual bukan hanya konseptualnya saja. Siswa bisa belajar bagaimana belajar memahami gejala sosial melalui imajinasi sosiologi.
Kemudian pada kegiatan hari kedua materi dibawakan oleh dua narasumber utama dari dosen prodi pendidikan sosisologi UNJ. Narasumber yang pertama yakni Dian Rinanta Sari, S.Sos., MAP dengan tema materi mengenai Penelitian Sosial Dasar di SMA. Materi dirasa penting mengingat ruh dari sosiologi itu sendiri adalah meneliti atau riset. materi ini disatu sisi menjadi momok bagi guru karena membutuhkan usaha, keterampilan dan pengetahuan yang memadai mengenai penelitian sosial. Kemudian, narasumber kedua yakni Dra. Rosita Adiani MA yang membawakan materi mengenai Model Pembelajaran Sosiologi Berbasis Pemberdayaan Komunitas. materi ini merupakan impelementasi kompetensi afektif terutama bagi siswa untuk melatih kepekaan sosial, empati dan rasa tanggung jawab terhadap sekitar.
Pada hari ketiga terdapat dua pemateri utama yakni pertama dibawakan oleh Devi Septiandini M,Pd dosen prodi pendidikan Sosiologi UNJ dan materi ke dua dibawakan oleh Dr. Evy Clara, M.Si Dosen Prodi Sosiologi UNJ dengan berkolaborasi bersama Komunitas Ruangbeka dengan pematerinya Nurrahma Sukmaya Kalamsari, S.Psi, (c) M.Psi, Psikolog. Pemateri pertama membawakan materi mengenai Pengembangan Manajemen Lab IPS untuk SMA. Materi ini untuk menjawab keresahan guru sebelum adanya pandemi bahwa siswa IPS kurang memiliki tempat untuk praktik dan mengelaborasi kemampuan psikomotoriknya dalam ranah IPS. Selama ini laboratorium pun diidentikkan saja dengan mata pelajaran IPA. Sesi berikutnya di hari ketiga ini dilanjutkan dengan materi kedua mengenai Penanganan Bullying menggunakan pendekatan Psikologi dan Sosial. Melalui materi ini ingin mengingatkan kepada para guru terutama kasus bullying jangan sampai terlupakan, apalagi karena semakin berkembangnya teknologi, aksi bullying berpindah ke ranah media sosial dalam bentuk diskriminasi maupun ujaran kebencian.
Kegiatan pengabdian masyarakat terintegrasi untuk guru – guru SMA ini secara umum terlaksana dengan sangat lancar. Peserta menyampaikan kebermanfaatan kegiatan sangat besar. Selama masa pandemi ini para guru minim pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka hanya disuguhkan dengan dinamika belajar di rumah yang terkadang menguras tenaga dan waktu. Melalui pelatihan ini mereka bisa saling bersilaturahmi dengan sesama guru setelah sekian lama tidak bertemu walaupun hanya dalam jaringan virtual.
Sebagian besar peserta merasa ada peningkatan pengetahuan. Diketahui pula berdasarkan penuturan peserta bahwa ternyata semua peserta merasa memiliki peningkatan dalam keterampilan melalui tugas – tugas yang diberikan selama penelitian. Kemudian, karena kebermanfaatan ini seluruh peserta sepakat bahwa perlu adanya pelatihan lanjutan yang lebih komprehensif dan luas lagi. Peserta juga berharap kedepannya pelatihan tidak hanya dilakukan untuk guru tetapi untuk para siswanya.

Meningkatkan Kesadaran Gender dan Edukasi Anti Traficking di Kalangan Guru dan Pelajar di SMKN 27 Jakarta

Wacana ketidaksetaraan gender merupakan persoalan nasional dan global yang perlu dicarikan alternatif penyelesaiannya. Di sini pembangunan gender dapat dilakukan melalui institusi pendidikan pada semua jenjang, baik pada jenjang pendidikan dasar (TK dan SD) dan menengah (SMP dan SMA/SMK), maupun pada jenjang pendidikan tinggi (Universitas). Kelembagaan pendididikan tersebut merupakan instrumen penting dalam membangun kognitif, skill, dan menghapus berbagai diskriminasi kehidupan manusia yang menjurus pada tindakan eksploitasi dalam bentuk perdagangan orang [human trafficking].

Dari hasil penelitian (Ikhlasiah, 2018) tentang pemetaan jaringan sosial dan motif korban human trafficking pada perempuan pekerja seks komersial di wilayah DKI Jakarta menunjukkan bawah motif atau latar belakang penyebab perempuan menjadi korban human trafficking dan kemudian menjadi PSK di DKI Jakarta dilatari oleh empat faktor penting yaitu, pertama, motif kemiskinan. Kedua, adalah motif pendidikan. Ketiga, adalah motif praktek budaya pernikahan dini yang berdampak pada perceraian. Keempat, yaitu motif tekanan masyarakat atau stigma masyarakat terhadap perempuan yang terpaksa menjadi pelacur.

Pada saat ini persoalan perdagangan orang [human trafficking] sudah mulai muncul pada lembaga pendidikan, terutama pada lembaga pendidikan menengah kejuruan (SMK). Realitas tersebut dapat dilihat dari peristiwa human trafficking melalui modus penawaran magang palsu kepada sekolah-sekolah kejuruan untuk bekerja di luar negeri dengan tindak eksploitasi, seperti jam kerja hingga 18 jam/hari, gaji rendah dan tidak diperlakukan manusiawi (http://www.kpai.go.id). Menurut Retno Listyarti anggota KPAI menyebut akibat kejahatan perdagangan orang terhadap pelajar SMK setidaknya sudah menjerat 86 pelajar SMK Nusa Tenggara Timur dan 52 Pelajar asal kabupaten Kendal Jawa Tengah (https:// www.bbc.com/indonesia/indonesia-43630085). Bercermin pada masalah tersebut maka pengabdian masyarakat dengan tema “Meningkatkan Kesadaran Gender dan Edukasi Anti Traficking di Kalangan Guru dan Pelajar di SMKN 27 Jakarta” penting untuk disampaikan.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dari Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta ini bekerjasama dengan guru-guru dan pelajar di SMKN 27 Jakarta. Sekolah Kejuruan tersebut dipilih sebagai tempat kegiatan karena sejalan dengan tujuan pengabdian masyarakat yang ingin mengembangkan dan meningkatkan Kesadaran Gender Dan Edukasi Anti Traficking di kalangan guru dan siswa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung pada tanggal 30 Juli 2019 di Aula Serbaguna SMKN 27 Jakarta.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang disampaikan oleh Dr. Hj. Ikhlasiah Dalimoenthe, M.Si, dkk ini memiliki kontribusi untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan serta kesadaran di kalangan guru dan pelajar SMK 27 Jakarta bahwa kesetaraan dan keadilan gender serta edukasi anti traficking perlu dilakukan secara berkelanjutan di tengah semakin meningkatnya modus operandi human trafficking yang menjadi masalah serius di Indonesia.

WORKSHOP MENINGKATKAN KAPASITAS GURU DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI KEARIFAN LOKAL DI KOMUNITAS MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) SOSIOLOGI MADRASAH ALIYAH NEGERI DAN SWASTA DKI JAKARTA

Diskursus pendidikan berbasis Kearifan lokal sudah diakomodir dalam kurikulum nasional. Realitas tersebut dapat dilihat dari adanya mata pelajaran sosiologi di sekolah menengah atas negeri dan swasta (SMA/MA/MAN/MA) dalam kurikulum 2013 dengan materi khusus yang membahas secara spesifik tentang “kearifan lokal dan pemberdayaan sosial komunitas”. Pada konteks kekinian materi tersebut memiliki peranan positif mengurangi berbagai dinamika problem kebangsaan seperti (konflik berbasis etnis dan agama, tawuran, sikap intoleran, serta konflik lainnya). Di sini pendekatan budaya lokal dan pemberdayaan sosial komunitas pada mata pelajaran sosiologi dapat dijadikan sebagai medium untuk menguatkan pilar pendidikan karakter.

Dari hasil penelitian sebelumnya menunjukkan pendidikan berbasis kearifan lokal dapat menumbuhkan karakter konservasi, dan mentransformasikan nilai-nilai karakter siswa, dan menjaga eksistensi budaya lokal di tengah tantangan modernisme dan globalisasi (Santoso, 2010 ; I Wayan Ray, 2009 ; Rayudi, 2010). Kemudian dari hasil studi kami (Rinantasari, Siswanto, Dkk 2018) tentang Pengembangan Model Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Pada Pelajaran Sosiologi Di SMA (Studi Kasus Masyarakat Adat Cigugur Di Jawa-Barat) menunjukkan bahwa nilai kearifan lokal dapat berfungsi untuk menanggulangi ketegangan sebagai akibat dari konflik, maupun untuk menciptakan kehidupan masyarakat Cigugur yang harmonis.  “Oleh sebab itu pengabdian masyarakat dengan tema Workshop Meningkatkan Kapasitas  Guru Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter Berbasis  Nilai Kearifan Lokal Di Komunitas  Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Madrasah Aliyah Negeri Dan Swasta DKI Jakarta penting untuk disampaikan” menurut penuturan ketua pelaksana Achmad Siswanto, M.Si.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Prodi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta dilakukan pada tanggal 30 Juli 2019 di ruang serbaguna MAN 11 Jakarta dengan melibatkan guru-guru yang terhimpun dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) Sosiologi MADRASAH ALIYAH NEGERI DAN SWASTA DKI JAKARTA. Komunitas MGMP Sosiologi dipilih sebagai mitra kerjasama karena sejalan dengan tujuan pengabdian masyarakat yang ingin mengembangkan dan meningkatkan kapasitas  Guru Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Kearifan Lokal pada materi kearifan lokal dan pemberdayaan sosial komunitas di mata pelajaran sosiologi pada sekolah jenjang menengah atas (MA/MAN/SMA).

Dosen Pendidikan Sosiologi Tingkatkan Kesadaran Mengenai UU Pariwisata di SMKN 30 Jakarta

Selama ini, UU mengenai kepariwisataan hanya dianggap perlu dipahami oleh pelaku usaha bisnis di bidang pariwisata. Belum banyak yang menyadari bahwa UU Kepariwisataan ini juga harus diketahui dan dipahami oleh lembaga pendidikan seperti SMK yang menyelenggarakan penjurusan di bidang pariwisata. Lulusan dari lembaga pendidikan ini nantinya Continue reading “Dosen Pendidikan Sosiologi Tingkatkan Kesadaran Mengenai UU Pariwisata di SMKN 30 Jakarta”