Jakarta—Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta kembali menegaskan perannya sebagai ruang akademik yang responsif terhadap isu global melalui keikutsertaan aktif mahasiswa dalam kegiatan Studium Generale bertema “Peran Pendidikan, Media Massa, dan Diplomasi dalam Mempererat Perdamaian Dunia”. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 29 April 2026 di Auditorium Maftuhah Yusuf ini menghadirkan praktisi perdamaian internasional dari International Peace Mission Foundation dan menjadi bagian dari agenda strategis universitas dalam membangun kesadaran global berbasis nilai-nilai kemanusiaan.
Kehadiran mahasiswa PAI, khususnya yang sedang menempuh mata kuliah Psikologi Islam, tidak hanya bersifat partisipatif, tetapi juga reflektif dan analitis. Forum ini diposisikan sebagai ruang integratif antara teori dan praktik, di mana mahasiswa didorong untuk mengkaji secara kritis berbagai gagasan yang disampaikan oleh narasumber dalam kerangka Psikologi Islam. Bahkan, kegiatan ini menjadi salah satu fondasi akademik dalam penyusunan analisis Ujian Tengah Semester, sehingga menuntut keterlibatan intelektual yang serius sejak awal.
Sejak pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, mahasiswa tidak hanya menerima paparan, tetapi juga diajak untuk memahami dinamika perdamaian dunia secara langsung dari perspektif para praktisi. Hal ini menegaskan bahwa isu perdamaian tidak cukup dipahami secara tekstual, melainkan harus dipahami sebagai realitas kompleks yang melibatkan pendidikan, media, dan diplomasi sebagai instrumen utama.
Dalam paparannya, Dr. Reda Abdel Salam Ibrahim Ali mengajukan kritik mendasar terhadap paradigma ekonomi Barat yang berangkat dari asumsi kelangkaan sumber daya. Berbeda dengan pandangan tersebut, Islam menempatkan sumber daya sebagai bagian dari nikmat Allah yang tidak terbatas, meskipun sebagian di antaranya bersifat tersembunyi dan memerlukan usaha manusia untuk menggalinya. Perspektif ini menggeser cara pandang manusia dari ketakutan akan kekurangan menjadi optimisme yang berbasis pada ikhtiar.
Bagi mahasiswa PAI, gagasan ini relevan secara langsung dengan Psikologi Islam. Manusia tidak diposisikan sebagai makhluk yang terjebak dalam tekanan kelangkaan, melainkan sebagai subjek yang memiliki potensi fitrah untuk berkembang. Kecemasan, dalam konteks ini, bukanlah akibat dari realitas objektif semata, tetapi dari cara pandang yang tidak utuh terhadap kehidupan. Oleh karena itu, ibadah dalam Islam tidak hanya dimaknai sebagai praktik ritual, tetapi juga mencakup kerja produktif, eksplorasi potensi, serta kontribusi bagi kemaslahatan.
Sementara itu, Prof. Dr. Abdel-Radi Mohamed Abdel-Mohsen Radwan menegaskan bahwa Islam pada hakikatnya adalah agama yang berlandaskan perdamaian. Prinsip ini tercermin dalam ajaran Al-Qur’an yang mendorong persatuan, melarang perpecahan, serta mengedepankan pendekatan dakwah yang penuh hikmah dan kelembutan. Sejarah penyebaran Islam pun menjadi bukti bahwa transformasi sosial yang berkelanjutan lebih efektif dicapai melalui akhlak dan interaksi yang damai dibandingkan dengan pendekatan konfrontatif.
Mahasiswa PAI memaknai paparan ini sebagai penguatan konsep fitrah dalam Psikologi Islam. Nilai-nilai damai tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses perkembangan manusia yang berkelanjutan—ditanamkan sejak masa kanak-kanak, diuji pada masa remaja, dan dimatangkan dalam kedewasaan. Dengan demikian, pendidikan menjadi instrumen kunci dalam membentuk karakter manusia yang berorientasi pada perdamaian.
Lebih jauh, kegiatan ini memperluas pemahaman mahasiswa tentang konsep khalifah fil ardh. Peran manusia sebagai khalifah tidak lagi dipahami secara sempit dalam konteks individual, tetapi sebagai tanggung jawab global yang melibatkan kontribusi aktif dalam menciptakan dunia yang damai. Pendidikan berfungsi sebagai fondasi nilai, media sebagai ruang konstruksi narasi publik, dan diplomasi sebagai sarana penyelesaian konflik.
Partisipasi mahasiswa PAI dalam kegiatan ini juga sejalan dengan arahan institusi yang secara resmi mengundang keterlibatan aktif program studi dalam forum tersebut, termasuk pengiriman dosen dan mahasiswa sebagai bagian dari kolaborasi akademik lintas disiplin . Hal ini menunjukkan bahwa Studium Generale bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari strategi untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan relevansi keilmuan.
Melalui kegiatan ini, Prodi PAI menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pendekatan pendidikan yang integratif—menghubungkan nilai-nilai Islam dengan tantangan global secara kontekstual. Psikologi Islam tidak lagi dipahami sebagai disiplin normatif semata, melainkan sebagai kerangka analitis yang mampu menjelaskan dinamika manusia dalam konteks sosial yang lebih luas.
Pada akhirnya, Studium Generale ini menyampaikan satu pesan penting: perdamaian dunia tidak hanya dibangun melalui forum diplomasi tingkat tinggi, tetapi juga melalui proses pendidikan yang membentuk cara pandang manusia terhadap dirinya, sesamanya, dan Tuhannya. Dari ruang kelas, mahasiswa PAI belajar melangkah menuju panggung dunia—membawa nilai-nilai Islam sebagai fondasi peradaban yang damai dan berkeadilan.



