BTransformasi pendidikan tidak selalu bermula dari teknologi paling mutakhir. Ia justru berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar: sudahkah guru benar-benar mengenali peserta didiknya?
Semangat tersebut menjadi benang merah dalam kegiatan “Peningkatan Kompetensi Guru melalui Pelatihan Media Pembelajaran Inovatif Menuju Pendidik Profesional” yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Islam Shofwatul Qolbi, Bekasi, pada Kamis, 9 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar peningkatan mutu pendidikan dan penguatan kompetensi pedagogik serta profesionalisme para guru di lingkungan yayasan.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta turut berperan melalui kehadiran Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si., dan Ahmad Nur Fahmi, M.Pd., sebagai narasumber. Keterlibatan keduanya membawa perspektif yang saling berkelindan: inovasi pembelajaran harus berangkat dari pemahaman terhadap manusia yang belajar, kemudian diperkuat dengan pemanfaatan teknologi secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab.
Mengawali paparan, Dr. Sari Narulita mengajak para guru kembali ke jantung pendidikan, yakni mengenali peserta didik. Guru tidak semestinya terburu-buru memilih aplikasi, platform, atau media yang sedang populer sebelum memahami siapa yang berada di ruang kelasnya. Media pembelajaran seharusnya dipilih setelah guru mengenali peserta didik, bukan sebaliknya.
Pemahaman terhadap tahap perkembangan kognitif dan psikososial, variasi kesiapan belajar, minat, akses, tujuan pembelajaran, serta karakteristik materi menjadi fondasi penting dalam menentukan media yang paling tepat. Media yang tampak modern belum tentu efektif jika tidak memenuhi kebutuhan nyata peserta didik.
Dalam paparannya, Dr. Sari juga mengingatkan agar guru tidak mudah menyederhanakan karakter peserta didik melalui label generasi seperti Gen Z atau digital native. Satu kelas menyimpan keragaman individu yang jauh lebih kompleks. Peserta didik memiliki pengalaman, kemampuan, akses teknologi, serta kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Karena itu, kepekaan pedagogik tetap menjadi kompetensi utama seorang pendidik.
Pada siswa SMP yang sedang beralih dari pola berpikir konkret menuju abstrak, pembelajaran perlu dibangun secara bertahap, visual, interaktif, dan variatif. Sementara itu, siswa SMK membutuhkan pembelajaran yang semakin dekat dengan kehidupan nyata, dunia kerja, simulasi praktik, studi kasus, serta pemecahan masalah autentik.
Dari sinilah makna inovasi pembelajaran menemukan pijakannya. Inovasi bukan sekadar membuat kelas tampak lebih modern atau ramai dengan berbagai aplikasi. Inovasi harus mampu membuat proses belajar semakin relevan, terarah, dan bermakna bagi peserta didik.
Pemahaman terhadap peserta didik tersebut kemudian dipertemukan dengan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi. Ahmad Nur Fahmi, M.Pd. melanjutkan sesi dengan mengajak para guru melihat kecerdasan artifisial bukan sebagai pengganti pendidik, melainkan sebagai perangkat yang dapat membantu guru bekerja lebih efektif.
Melalui pengenalan NotebookLM, para peserta diajak untuk memanfaatkan bahan ajar, modul, dan berbagai dokumen pembelajaran yang telah tersedia. Sumber-sumber tersebut dapat diolah menjadi ringkasan, panduan belajar, pertanyaan kuis, glosarium, pemetaan hubungan antarkonsep, hingga berbagai bentuk materi pendukung pembelajaran. Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi tidak harus menambah beban guru. Sebaliknya, teknologi dapat membantu guru mengelola sumber belajar dan menyiapkan pembelajaran dengan lebih efisien.
Namun, penggunaan kecerdasan artifisial juga harus disertai dengan literasi kritis. Para guru diperkenalkan pada risiko bias, halusinasi, fakta buatan, kesalahan logika, hingga kutipan palsu yang dapat muncul dalam output AI. Karena itu, guru tetap memegang peran sentral dalam memeriksa akurasi, kesesuaian, dan kelayakan setiap materi sebelum digunakan dalam pembelajaran.
Pesan yang mengemuka terasa semakin relevan: semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin dibutuhkan nalar kritis dan kebijaksanaan seorang guru.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para guru tidak hanya menyimak paparan, tetapi turut terlibat dalam praktik dan penyelesaian tugas menggunakan perangkat masing-masing. Proses ini memberi ruang bagi peserta untuk langsung mencoba, berdiskusi, dan menghubungkan teknologi dengan kebutuhan pembelajaran yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Format kegiatan memang dirancang berbasis praktik agar pengetahuan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi keterampilan yang nyata.
Keterlibatan PAI UNJ dalam kegiatan ini sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas. Pendidikan berkualitas tidak cukup dimaknai sebagai tersedianya akses pendidikan. Kualitas juga bertumbuh dari guru yang terus belajar, memahami keragaman peserta didik, mengembangkan kompetensi, dan mampu merespons perubahan teknologi secara bijaksana.
Penguatan kapasitas guru dalam memahami karakteristik peserta didik dan mendayagunakan teknologi juga menjadi bagian penting dari semangat pendidikan yang inklusif dan pembelajaran sepanjang hayat. Guru didorong untuk tidak menyeragamkan peserta didik, tetapi membaca kebutuhan nyata di kelas dan merancang pembelajaran yang lebih adaptif.
Pada saat yang sama, sinergi antara PAI UNJ dan YPI Shofwatul Qolbi mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals. Tantangan pendidikan tidak dapat dijawab oleh perguruan tinggi atau sekolah secara terpisah. Kolaborasi memungkinkan pengembangan keilmuan di kampus bertemu dengan pengalaman autentik para guru di ruang kelas. Dari perjumpaan itulah pengetahuan dapat diuji, dikembangkan, dan dihadirkan kembali dalam bentuk yang lebih kontekstual.
Kegiatan ditutup oleh Ketua Yayasan Pendidikan Islam Shofwatul Qolbi, K.H. Syatiri Matrais, Lc., M.A. Ia menyampaikan harapan agar perjumpaan akademik ini tidak berhenti sebagai pelatihan sesaat. Kerja sama dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta diharapkan dapat terus berlanjut sebagai bagian dari pengembangan pembelajaran dan peningkatan kompetensi guru di lingkungan YPI Shofwatul Qolbi.
Harapan tersebut membuka ruang sinergi yang lebih luas. Kampus dan sekolah perlu tumbuh bersama. Pengembangan keilmuan di perguruan tinggi perlu terus berdialog dengan pengalaman nyata para guru. Sebaliknya, dinamika ruang kelas dapat menjadi sumber refleksi akademik untuk melahirkan pendekatan pendidikan yang semakin relevan dan berdampak.
Bagi PAI UNJ, kontribusi terhadap pendidikan Islam tidak berhenti di ruang kuliah. Keilmuan perlu hadir di tengah masyarakat, menjawab kebutuhan, dan bertumbuh melalui kolaborasi. Dari Shofwatul Qolbi, sebuah pesan penting kembali diteguhkan: kenali peserta didiknya, pahami tujuan belajarnya, lalu gunakan teknologi dengan cerdas dan bijaksana.
Sebab teknologi akan terus berubah. Namun, pendidikan akan selalu bertumbuh dari guru yang bersedia belajar, memahami, dan membersamai peserta didiknya. Melalui kolaborasi dan penguatan kapasitas pendidik, PAI UNJ terus mengambil bagian dalam ikhtiar menghadirkan pendidikan Islam yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan—sebuah langkah nyata menuju pendidikan berkualitas serta masa depan pembelajaran yang lebih bermakna.




