Ketika AI Mudah Menyediakan Pengetahuan, Karakter Menjadi Pembeda: Dosen PAI UNJ Tegaskan Agama sebagai Fondasi Profesionalisme

Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial yang semakin cepat, pengetahuan agama kini dapat diakses dalam hitungan detik. Pertanyaan tentang ayat, hadis, fikih, hingga berbagai tema keislaman dapat diajukan kepada mesin dan dijawab dengan cepat. Namun, apakah kemudahan memperoleh pengetahuan secara otomatis mampu melahirkan manusia yang berkarakter dan profesional?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu refleksi penting dalam Kuliah Umum bertema “Agama sebagai Pondasi Profesionalisme” yang diselenggarakan dalam rangka 28 Tahun Reuni Akbar ISLAH ’98, pada Selasa, 7 Juli 2026, di Kampus II Nur El-Ghazy, Burangkeng, Bekasi. Kegiatan yang dihadiri santri, mahasiswa STAI Nur El-Ghazy, dan alumni tersebut menghadirkan para narasumber dengan latar belakang profesi yang beragam, mulai dari akademisi, peneliti, diplomat, konsultan fikih, hingga praktisi.

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta turut mengambil bagian melalui kehadiran Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si., dosen PAI UNJ, sebagai salah satu narasumber. Bersama para pembicara lainnya, ia mengajak peserta melihat agama bukan sekadar kumpulan pengetahuan normatif, tetapi sebagai fondasi yang membentuk cara seseorang bekerja, berinteraksi, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan profesinya.

Dalam paparannya, Sari Narulita menyoroti perubahan besar yang dibawa oleh kecerdasan artifisial (AI) dalam dunia pendidikan. Menurutnya, materi dan informasi keagamaan kini semakin mudah diperoleh. AI dapat membantu mencari informasi, merangkum bahan, menyusun penjelasan, bahkan menghadirkan berbagai alternatif jawaban dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, kemudahan tersebut justru menghadirkan tantangan baru bagi para pendidik. Ketika pengetahuan semakin mudah diakses, pendidik tidak dapat lagi hanya mengandalkan perannya sebagai penyampai materi. Ada sisi kemanusiaan yang tidak dapat diadopsi sepenuhnya oleh AI: keteladanan, empati, kepekaan, integritas, dan kehadiran manusia dalam membersamai proses pertumbuhan peserta didik.

Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, pesan ini semakin penting. Pendidikan agama tidak cukup hanya untuk memastikan peserta didik mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Pendidikan harus membantu mereka memahami nilai, meneladani keteladanan, dan belajar bagaimana prinsip agama diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

AI mungkin mampu menjelaskan makna kejujuran. Namun, peserta didik belajar integritas ketika melihat pendidiknya konsisten antara perkataan dan tindakannya. AI dapat menyusun uraian panjang tentang kasih sayang, tetapi kehangatan seorang guru saat mendengar kesulitan peserta didiknya menghadirkan pengalaman kemanusiaan yang berbeda. Teknologi dapat menjelaskan konsep tanggung jawab, tetapi karakter itu tumbuh ketika peserta didik melihat bagaimana orang dewasa di sekitarnya menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, Sari menekankan pentingnya pendidik menghadirkan karakter terbaik di hadapan peserta didik. Guru dan dosen tidak cukup hanya menjadi sumber informasi. Mereka perlu menjadi figur yang menunjukkan bagaimana ilmu, agama, dan profesionalisme bertemu dalam perilaku sehari-hari.

Pesan tersebut sejalan dengan tema besar kuliah umum yang menempatkan agama sebagai landasan profesionalisme. Profesionalisme dalam perspektif pendidikan Islam tidak hanya diukur melalui kecakapan teknis dan kemampuan menyelesaikan tugas. Di dalamnya terdapat amanah, integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kesadaran bahwa setiap profesi memiliki dimensi kemanusiaan dan nilai-nilai.

Kehadiran narasumber dari beragam profesi turut memperkaya perspektif para peserta. Para santri dan mahasiswa memperoleh gambaran bahwa latar belakang pendidikan agama tidak membatasi ruang pengabdian seseorang. Nilai-nilai Islam justru dapat menjadi fondasi ketika seseorang bergerak dalam dunia akademik, penelitian, diplomasi, konsultasi, maupun berbagai ruang profesional lainnya.

Bagi PAI UNJ, partisipasi dalam forum ini mempertegas pentingnya menyiapkan pendidik agama yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan orientasi kemanusiaannya. Perkembangan AI tidak semestinya dihadapi dengan rasa takut. Sebaliknya, teknologi perlu dipahami, dimanfaatkan secara kritis, dan ditempatkan sebagai perangkat yang mendukung kerja manusia.

Justru ketika mesin semakin pintar, karakter manusia menjadi semakin penting.

Semangat tersebut selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas. Pendidikan berkualitas tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan manusia yang memiliki kompetensi, nilai, dan kapasitas untuk menghadapi perubahan. Dalam era AI, penguatan kualitas pendidik menjadi semakin strategis karena guru memiliki peran penting dalam membimbing peserta didik untuk menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.

Kuliah umum ini juga beririsan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth, terutama dalam penguatan profesionalisme dan kesiapan generasi muda untuk memasuki dunia kerja dengan integritas serta karakter yang kuat. Sementara itu, perjumpaan akademisi dan profesional dari berbagai bidang mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals, yakni pentingnya jejaring dan kolaborasi dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Di hadapan para santri dan mahasiswa, pesan tentang masa depan pendidikan akhirnya menemukan relevansinya. Generasi mendatang akan hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin cerdas. Mereka mungkin memiliki akses terhadap pengetahuan yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, keluasan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman karakter.

Di sinilah pendidik tetap memiliki ruang pengabdian yang tidak tergantikan.

Jika AI mampu menyediakan materi, maka pendidik harus menghadirkan makna. Jika AI mampu memberikan jawaban, pendidik perlu menumbuhkan kebijaksanaan. Dan jika teknologi mampu meniru kecerdasan, manusia harus semakin kuat dalam menunjukkan integritas, empati, dan keteladanan.

Bagi PAI UNJ, pendidikan agama di era AI bukanlah tentang berlomba dengan mesin dalam menyampaikan informasi. Pendidikan adalah ikhtiar untuk terus memanusiakan manusia. Sebab pada akhirnya, masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas dalam menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang memiliki karakter untuk menentukan ke arah mana teknologi itu digunakan.

Company

Our ebook website brings you the convenience of instant access to a diverse range of titles, spanning genres from fiction and non-fiction to self-help, business.

Features

Most Recent Posts

eBook App for FREE

Lorem Ipsum is simply dumy text of the printing typesetting industry lorem.

Category

Company

About Us

FAQs

Contact Us

Terms & Conditions

Privacy Policy

Features

Copyright Notice

Mailing List

Social Media Links

Help Center

Products

Sitemap

New Releases

Best Sellers

Newsletter

Contact us

Mailing

Privacy Policy

Mailing List

© 2025 Islamic Education Study Program