Jakarta, 23 Mei 2022 – Universitas Negeri Jakarta menggelar webinar nasional pada 21 Mei 2022 dengan judul “Menciptakan Kampus Sehat Bebas LGBT dan Free Sex” yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meetings. Webinar nasional yang bertujuan sebagai sarana untuk memberikan informasi dan pengetahuan mengenai dampak dari perilaku LGBT dan free sex serta menciptakan lingkungan kampus sehat yang bebas dari LGBT dan free sex tersebut menghadirkan Dr. Abdul Sukur, S.Pd., M.Si. selaku Wakil Rektor III UNJ,  Dr. Abdul Haris Fatgehipon, M.Si. selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FIS UNJ dan dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK, FINSDV, FAADV selaku Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RS Permata Cibubur sebagai pembicara. Peserta webinar nasional tersebut adalah masyarakat umum mulai dari civitas akademika lingkup Universitas Negeri Jakarta hingga masyarakat dari berbagai provinsi seperti anggota lembaga pendidikan dan ASN dari Pemerintah Daerah Papua Kabupaten Timika.

Wakil Rektor III UNJ Dr. Abdul Sukur, S.Pd., M.Si. membuka webinar nasional. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kondisi penyimpangan perilaku yang sedang marak terjadi di tengah masyarakat seperti LGBT, pergaulan bebas, dan kecanduan pornografi, kejahatan dan kekerasan seksual serta bullying menjadi perhatian serius di lingkup akademisi hingga pemerintah. “Kita sadari bahwa kondisi penyimpangan perilaku tersebut tentu saja akan memberikan dampak yang buruk bagi pengembangan atau bagi pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter dan bermartabat. Serta akan melahirkan berbagai penyakit jasmani dan rohaniah yang akan mengancam masa depan kualitas bangsa Indonesia,” ucap beliau dalam sambutannya. Beliau turut mengatakan bahwa webinar nasional ini merupakan bentuk antisipasi dan beliau sangat menyambut baik webinar yang diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Sosial UNJ dan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FIS UNJ Dr. Abdul Haris Fatgehipon, M.Si. sebagai sarana edukasi dan wujud kepedulian bersama terhadap fenomena dan polemik yang terjadi. Beliau juga berharap webinar nasional ini dapat memberikan pengetahuan serta membawa banyak manfaat bagi kita semua demi mewujudkan lingkungan dan masyarakat yang sehat yang terbebas dari penyimpangan perilaku.

Dr. Abdul Sukur, S.Pd., M.Si. dalam Webinar Nasional Kampus Sehat Bebas LGBT dan Free Sex

Sebelum memasuki sesi pemaparan materi oleh para pembicara, Puspita Dewi Lestari selaku Master of Ceremony mengarahkan para peserta webinar nasional untuk foto bersama. Setelah sesi foto bersama, acara inti Webinar Nasional Kampus Sehat Bebas LGBT dan Free Sex yaitu pemaparan materi oleh pembicara yang dimoderatori oleh Salsabila Nasution selaku Mawapres 1 FIS UNJ 2022.

Dewi Inong Irana, Sp.KK, FINSDV, FAADV membuka materinya dengan memaparkan berbagai contoh gaya hidup anak muda millenial yang tidak sehat, salah satunya adalah perilaku seks bebas dan menyampaikan edukasi seksual mengenai alat reproduksi dan kesehatan reproduksi laki-laki maupun perempuan serta dampak dari seks bebas yaitu penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dan praktek aborsi. “Jadi, perilaku seks bebas tadi (dipicu) gaya hidup, iseng (atau) just for fun, merasa aman pakai kondom, merasa aman sesama jenis, cari uang gampang,” ucap dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK, FINSDV, FAADV.

Dalam paparannya, dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK, FINSDV, FAADV juga memaparkan data presentase kasus HIV di Indonesia dari Ditjen P2P Kemenkes RI tahun 2020 yang menyatakan bahwa 85,7% kasus HIV di Indonesia merupakan dari kelompok usia produktif 20 – 49 tahun. “Yang paling ngeri adalah terbanyak usia 20 sampai 49 tahun di Indonesia. Penderita AIDS tuh usia produktif paling tinggi, (yaitu) 85,7%. Terus gimana dong Indonesia?” tambah beliau. Beliau menambahkan beberapa informasi berupa lembaga atau yayasan pertolongan maupun pendampingan bagi masyarakat yang kecanduan pornografi hingga seks bebas.

Selanjutnya, Dr. Abdul Haris Fatgehipon, M.Si. membuka paparannya dengan mengungkapkan keprihatinan beliau terhadap penyebaran LGBT di beberapa kampus di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang pernah beliau lakukan, persoalan LGBT juga mencakup persoalan psikologi dan persoalan ekonomi. Beliau juga turut menyampaikan tiga poin yaitu kampus di Indonesia atau Lembaga Pendidikan melarang perilaku menyimpang LGBT dan seks bebas dan menjunjung nilai-nilai Pancasila serta semua agama di Indonesia melarang perilaku LGBT.“Bagaimana sih, model atau pencegahan LGBT? Saya pikir (kita) semua mungkin sudah punya pikiran yang sama tetapi kami di Universitas Negeri Jakarta atau mungkin lembaga-lembaga sekolah lainnya melakukan model-model pencegahan yaitu pertama melibatkan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan atau pemerintah. Berikut, melakukan edukasi, pendampingan dan pencegahan. Kami punya unit Bimbingan Konseling, ya. Kemudian kita mengarahkan mahasiswa untuk melakukan aktivitas positif misalnya aktivitas keagamaan, pembinaan karakter, olahraga, dan kesehatan. Jadi olahraga itu penting. Mengarahkan mahasiswa atau siswa pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif, yang menghindarkan mereka atas pengaruh buruk daripada LGBT,” ucap Dr. Abdul Haris Fatgehipon, M.Si..

Setelah materi disampaikan oleh kedua pembicara, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab dibuka yang dipandu oleh Salsabila Nasution selaku moderator sekaligus menjadi penutup pada Webinar Nasional Kampus Sehat Bebas LGBT dan Free Sex.

DRD, ARP, WPS

Tim FIS Media Center
Kategori: Berita