Jeddah — Suasana khidmat menyelimuti shelter KJRI Jeddah pada Rabu, 18 Februari 2026, bertepatan dengan hari pertama Ramadan 1447 H. Para penghuni shelter mengikuti kegiatan pembinaan kemasyarakatan yang menekankan makna puasa di negeri rantau.
Kegiatan dibuka oleh Neni Kurniati, Koordinator Perlindungan Warga KJRI Jeddah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum memperkuat ketahanan spiritual, terutama bagi warga yang sedang menghadapi situasi sulit. Beliau menyampaikan bahwa KJRI Jeddah tidak hanya berkomitmen pada perlindungan administratif dan hukum, tetapi juga pada pembinaan mental dan keagamaan. Dukungan penuh terhadap kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan rasa aman dan harapan bagi para penghuni shelter.
Sesi utama menghadirkan Dr. Sari Narulita, Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta memahami puasa sebagai ibadah yang sangat personal. “Puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah. Tidak ada yang benar-benar tahu kualitasnya selain kita dan Allah,” jelasnya. Ia menekankan bahwa puasa melatih integritas. Seseorang bisa terlihat baik di hadapan orang lain, tetapi puasa menguji kejujuran saat tidak ada yang mengawasi.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari yang haram. Justru inti latihannya adalah menahan diri dari sesuatu yang dibolehkan.
“Makan dan minum itu halal. Namun saat berpuasa kita tinggalkan demi ketaatan. Jika yang halal saja mampu kita kendalikan, maka yang haram seharusnya lebih mudah kita jauhi,” tegasnya.
Pesan ini menjadi refleksi mendalam bagi para peserta. Puasa dipahami sebagai proses membangun kendali diri, memperkuat kesabaran, dan menata kembali arah hidup di tengah ujian.
Pembinaan juga membahas konsep kemudahan dalam berpuasa. Islam, jelasnya, memberi ruang keringanan bagi mereka yang tidak mampu menjalankan puasa karena alasan kesehatan atau kondisi tertentu. “Allah tidak menghendaki kesulitan. Jika memang tidak mampu, syariat memberi solusi—mengganti di hari lain atau membayar fidyah sesuai ketentuan,” ujarnya. Penjelasan tersebut menghadirkan ketenangan. Para penghuni shelter tidak merasa dihakimi, tetapi dipahami. Mereka melihat bahwa ibadah hadir sebagai rahmat, bukan beban.
Kegiatan ditutup dengan dialog dan doa bersama. Hari pertama Ramadan itu menjadi awal yang menguatkan. Di negeri rantau, puasa dimaknai bukan sekadar menahan lapar, tetapi membangun kejujuran, ketahanan, dan harapan untuk bangkit kembali.



