Bogor, 20 April 2026 — STAI Nurul Iman Parung, Bogor, menyelenggarakan kuliah umum yang menghadirkan perspektif pendidikan Islam kontemporer dalam bingkai integrasi nilai dan keterampilan abad ke-21. Bertempat di Masjid Nurul Iman, kegiatan ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan tuntutan kompetensi global yang semakin dinamis.
Kegiatan diawali dengan doa sebagai landasan spiritual dalam menuntut ilmu, kemudian dibuka oleh Siti Khofidhoh. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan pesantren harus mampu melampaui sekadar transfer pengetahuan, menuju pembentukan karakter, cara berpikir kritis, serta kesiapan dalam menghadapi tantangan zaman.
Sebagai narasumber, hadir dua dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yaitu Rihlah Nur Aulia dan Sari Narulita. Kehadiran keduanya memperkaya diskursus akademik melalui pendekatan integratif antara nilai-nilai keislaman dan penguatan kapasitas mahasiswa.
Dalam paparannya, Rihlah Nur Aulia menekankan pentingnya pengembangan kemampuan mahasiswa, khususnya dalam penguasaan teknologi dan bahasa. Ia menyoroti bahwa lulusan PAI di era digital tidak cukup hanya memiliki kedalaman pemahaman keagamaan, tetapi juga harus memiliki keterampilan adaptif yang memungkinkan mereka berperan aktif di ruang publik, termasuk dalam dakwah berbasis digital dan komunikasi lintas budaya. Penekanan ini mengarah pada pentingnya integrasi antara kompetensi abad ke-21 dengan nilai-nilai Islam sebagai fondasi utama.
Sementara itu, Sari Narulita mengulas secara mendalam petuah Imam Syafi’i mengenai enam prasyarat dalam menuntut ilmu, yakni kecerdasan, semangat, kesabaran, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang memadai. Paparan tersebut tidak hanya disampaikan secara konseptual, tetapi juga dikontekstualisasikan dalam kehidupan mahasantri di lingkungan pesantren.
Antusiasme peserta terlihat jelas ketika para mahasantri mampu menyebutkan enam prinsip tersebut dalam bentuk lagu. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang disampaikan tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga diinternalisasi secara lebih mendalam. Sari Narulita menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran yang tepat dapat menjadikan ilmu lebih mudah dipahami, diingat, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sudut pandang pendidikan agama Islam, kegiatan ini mencerminkan model pembelajaran yang integratif, yakni menggabungkan penguatan keterampilan modern dengan internalisasi adab dan etika keilmuan. Hal ini menjadi penting dalam menjawab tantangan pendidikan Islam di era global, di mana kebutuhan akan kompetensi tidak dapat dipisahkan dari pembentukan karakter dan nilai-nilai.
Kuliah umum ini sekaligus menegaskan bahwa PAI memiliki peran strategis dalam membentuk mahasantri yang adaptif, berkarakter, dan mampu berkontribusi di tengah perubahan zaman. Melalui kolaborasi akademik seperti ini, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual serta kesiapan untuk menghadapi dinamika masa depan.




