Isu lingkungan hidup dewasa ini tidak lagi sekadar menjadi pembahasan dalam ranah sains dan kebijakan publik, tetapi telah berkembang menjadi tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual bagi seluruh umat manusia. Menyadari pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan bumi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bersama mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) turut berpartisipasi aktif dalam Seminar Lingkungan “Sinergi Biru: Kolaborasi Multi Pihak untuk Penanganan Sampah Laut” yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, tertanggal 11 Juni 2026 di Jakarta International Convention Center
Keterlibatan mahasiswa PAI FISH UNJ dalam forum nasional tersebut bukan sekadar menghadiri kegiatan akademik di luar kampus. Lebih dari itu, seminar ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran pada mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Sosial dan Filsafat yang diampu oleh Dr. Rihlah Nur Aulia, M.A.. Melalui pengalaman belajar kontekstual ini, mahasiswa diajak untuk melihat secara langsung bagaimana berbagai pemangku kepentingan—pemerintah, akademisi, lembaga riset, komunitas, dan masyarakat sipil—berkolaborasi dalam menghadapi persoalan lingkungan, khususnya ancaman sampah laut yang kini menjadi isu global.
Bagi Prodi PAI FISH UNJ, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas. Pendidikan Agama Islam hadir untuk menjawab persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk tantangan krisis ekologis. Karena itu, dalam mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Sosial dan Filsafat, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep-konsep dasar ilmu sosial dan filsafat mengenai hakikat manusia, keberadaan Tuhan, dan relasi manusia dengan alam semesta, tetapi juga diperkenalkan pada kajian ekoteologi sebagai paradigma yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab ekologis.
Ekoteologi memandang bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manifestasi iman. Dalam perspektif Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah fil-ardh, pemimpin sekaligus penjaga bumi yang memiliki amanah untuk merawat, memelihara, dan menjaga keseimbangan alam. Konsep mizan (keseimbangan) dan amanah menjadi fondasi etik bahwa eksploitasi yang merusak lingkungan bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung kemaslahatan dan keberlanjutan kehidupan.
Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Rihlah Nur Aulia, M.A., dosen pengampu mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Sosial dan Filsafat sekaligus moderator dalam seminar tersebut,
“Alam adalah ayat-ayat Allah yang terhampar. Merusak lingkungan bukan sekadar persoalan etika, melainkan persoalan keimanan. Kegiatan seperti ini menghidupkan filsafat di luar ruang kelas—mahasiswa tidak hanya berpikir, tetapi juga bergerak bersama alam.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan agama memiliki tanggung jawab untuk melahirkan insan yang tidak hanya unggul dalam aspek intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan ekologis. Seminar lingkungan ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan teori dengan praktik, sekaligus menghidupkan filsafat sebagai cara pandang yang mampu menjembatani nilai-nilai spiritual dengan aksi nyata di tengah masyarakat.
Partisipasi aktif mahasiswa PAI FISH UNJ juga memperdalam pemahaman mereka terhadap subtema ekologi yang dipelajari dalam perkuliahan. Mahasiswa diajak untuk merefleksikan relasi manusia dan alam dalam berbagai tradisi pemikiran, mulai dari konsep amanah dan keseimbangan dalam Islam hingga gagasan para filsuf lingkungan kontemporer seperti Lynn White Jr. dan Holmes Rolston III, yang mendorong lahirnya kesadaran baru tentang pentingnya etika lingkungan dalam kehidupan modern. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan pemahaman konseptual, tetapi juga menumbuhkan sensitivitas dan tanggung jawab terhadap persoalan global.
Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kontribusi Prodi PAI FISH UNJ dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setidaknya, terdapat beberapa tujuan SDGs yang diaktualisasikan melalui kegiatan ini, antara lain SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran transformatif berbasis pengalaman, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan literasi dan aksi lingkungan, SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui kampanye penanganan sampah laut, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga riset, dan berbagai elemen masyarakat.
Melalui pendekatan ini, PAI FISH UNJ menunjukkan bahwa pendidikan agama memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan kontemporer. Isu lingkungan bukanlah wilayah yang terpisah dari kajian keislaman, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menghadirkan kemaslahatan dan menjaga keberlanjutan kehidupan. Nilai-nilai spiritual yang dipadukan dengan perspektif ilmu sosial dan filsafat melahirkan paradigma baru bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian dari pengabdian kepada Tuhan dan bentuk nyata kasih sayang terhadap seluruh makhluk.
Dr. Rihlah Nur Aulia berharap momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia dapat menjadi awal tradisi akademik yang terus berkembang di lingkungan PAI FISH UNJ. Mahasiswa didorong untuk terus mengembangkan kajian dan gerakan ekoteologi, baik melalui penelitian, karya ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, maupun aksi-aksi kolaboratif yang berdampak nyata bagi lingkungan.
Pada akhirnya, keterlibatan BEM dan mahasiswa PAI FISH UNJ dalam Seminar Lingkungan Nasional ini menjadi bukti bahwa kampus bukan sekadar tempat mentransmisikan pengetahuan, melainkan juga ruang pembentukan karakter dan laboratorium perubahan sosial. Dari ruang kuliah hingga forum-forum publik, mahasiswa ditempa untuk menjadi generasi yang mampu memadukan keimanan, keilmuan, dan kepedulian ekologis dalam satu langkah nyata.
PAI FISH UNJ percaya bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah, dan menanamkan kesadaran ekologis pada generasi muda adalah investasi terbaik untuk mewujudkan masa depan yang berkeadaban, berkelanjutan, dan penuh keberkahan bagi seluruh makhluk di muka bumi.


