Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan insan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Kampus yang baik bukan sekadar menghasilkan ilmu pengetahuan, melainkan mampu mengubah ilmu menjadi solusi bagi berbagai persoalan sosial. Semangat inilah yang tercermin dalam Pelantikan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Administrasi Jakarta Timur Masa Khidmat 2025–2030 yang diselenggarakan pada Sabtu, 18 Juli 2026, di Aula Latief Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Momentum tersebut menjadi awal penguatan kolaborasi antara ulama, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun kehidupan umat yang semakin berkualitas. Di tengah tantangan era digital, perubahan pola kehidupan keluarga, hingga meningkatnya kebutuhan akan pendidikan keagamaan yang moderat dan inklusif, MUI memiliki peran strategis sebagai mitra pembangunan yang menghadirkan solusi berbasis nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Dalam pelantikan tersebut, lima dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta dipercaya mengemban amanah sebagai pengurus MUI di Kota Administrasi Jakarta Timur. Mereka adalah Dr. Andy Hadiyanto, Dr. Abdul Fadhil, Rudi Muhammad Barnansyah, M.Pd., Dr. Rihlah Nur Aulia, M.A., dan Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si. Kepercayaan ini menjadi bukti bahwa kompetensi akademik yang dimiliki sivitas UNJ mendapat ruang untuk diimplementasikan secara nyata dalam pelayanan kepada masyarakat.
Bagi Universitas Negeri Jakarta, amanah tersebut memiliki makna yang sangat strategis. Sebagai perguruan tinggi negeri yang berada di wilayah Jakarta Timur, UNJ memiliki kedekatan geografis sekaligus tanggung jawab sosial untuk turut berkontribusi dalam pembangunan masyarakat di wilayah tersebut. Kampus tidak cukup dikenal hanya melalui prestasi akademik, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan masyarakat, memperkuat kehidupan beragama, membangun keluarga yang tangguh, serta membina generasi muda yang berkarakter.
Kehadiran dosen PAI UNJ dalam kepengurusan MUI merupakan implementasi nyata Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Keilmuan yang lahir dari proses pendidikan dan penelitian menemukan relevansinya ketika diwujudkan dalam program-program pemberdayaan umat, penguatan literasi keagamaan, pembinaan keluarga, pendampingan remaja, pengembangan pendidikan Islam, serta penguatan moderasi beragama.
Lebih dari itu, sinergi antara UNJ dan MUI juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penguatan pendidikan keagamaan yang berkualitas dan inklusif, kolaborasi ini mendukung SDG 4 (Quality Education). Program pembinaan keluarga, pemberdayaan perempuan, dan pendampingan remaja berkontribusi pada SDG 5 (Gender Equality) serta SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan kesehatan sosial, mental, dan spiritual masyarakat. Upaya membangun kehidupan masyarakat yang damai, moderat, dan harmonis menjadi bagian dari implementasi SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Sementara itu, kolaborasi antara MUI, UNJ, pemerintah daerah, dan berbagai elemen masyarakat mencerminkan semangat SDG 17 (Partnerships for the Goals), yaitu membangun kemitraan yang kuat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan, melainkan awal dari ikhtiar bersama untuk memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat. Ketika ulama dan akademisi bersinergi, ilmu pengetahuan memperoleh ruang untuk diimplementasikan, sementara dakwah mendapatkan pendekatan yang lebih kontekstual, ilmiah, dan solutif.
Harapannya, amanah yang diemban para dosen PAI UNJ menjadi penggerak lahirnya berbagai program kolaboratif yang berdampak nyata bagi masyarakat Jakarta Timur. Dari ruang-ruang akademik menuju ruang-ruang pengabdian, UNJ terus meneguhkan perannya sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis dalam mewujudkan masyarakat yang religius, berdaya, dan berkelanjutan.



