CHANGHUA, TAIWAN — Pendidikan Agama Islam tidak lagi cukup dipahami sebagai proses pembelajaran di ruang kelas. Di tengah dunia yang semakin terbuka, PAI perlu menghadirkan mahasiswa yang mampu memahami keberagaman, berdialog dengan ilmu pengetahuan, membaca persoalan global, serta tetap kokoh dalam nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Semangat tersebut tercermin dalam perjalanan Mohammad Dzaky Zaidan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saat mengikuti Summer Chinese Language Short-Term Study Tour di Da-Yeh University (DYU), Taiwan, pada 16–30 Juli 2026. Program tersebut diikuti mahasiswa UNJ bersama peserta internasional dan menghadirkan pengalaman belajar bahasa Mandarin, budaya, sejarah, agama, sains, hingga lingkungan.
Bagi PAI UNJ, keberangkatan Dzaky bukan sekadar perjalanan akademik ke luar negeri. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana internasionalisasi pendidikan dapat membentuk mahasiswa yang berani keluar dari zona nyaman, memperluas cakrawala, dan menemukan relevansi nilai-nilai Islam dalam kehidupan global. Selama dua pekan di DYU, Dzaky mengikuti pembelajaran Mandarin secara intensif. Pagi hingga siang ia mengikuti kelas bahasa, sedangkan sore hari diisi dengan berbagai kegiatan budaya. Peserta menyelesaikan lima level pembelajaran Mandarin dan mengikuti delapan lokakarya budaya, mulai dari membuat mochi, kue nanas, lumpia, dan congyoubing, hingga melukis kain dan bermain board game berbahasa Mandarin bersama peserta dari berbagai negara.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bahasa asing bukan sekadar keterampilan tambahan. Bahasa membuka pintu untuk memahami manusia, budaya, dan peradaban. Bagi mahasiswa PAI, kemampuan ini menjadi modal penting untuk menjadi pendidik yang mampu berkomunikasi dengan generasi yang semakin beragam serta membangun dialog di tengah masyarakat global.
Namun, semakin jauh Dzaky berada dari Indonesia, semakin kuat pula kesadarannya untuk menjaga identitas keislamannya. Selama program berlangsung, ia bersama mahasiswa Indonesia lainnya tetap melaksanakan salat Jumat secara mandiri di lingkungan kampus. Imam, khatib, dan muazin berasal dari kalangan mahasiswa Indonesia. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi Masjid NU Changhua dan bersilaturahmi dengan komunitas Muslim Indonesia yang sebagian besar merupakan pekerja migran. Pengalaman ini memberikan pesan penting: menjadi mahasiswa global tidak berarti kehilangan akar. Justru, perjumpaan dengan dunia dapat memperkuat identitas sekaligus menumbuhkan kemampuan menghargai perbedaan.
Bagi PAI UNJ, pengalaman tersebut juga memperluas gambaran tentang ruang pengabdian lulusan. Sarjana PAI tidak hanya dapat berkiprah di sekolah atau madrasah, tetapi juga memiliki peluang untuk berperan sebagai pendidik, komunikator, dan penyuluh agama bagi komunitas Muslim di berbagai belahan dunia.
Perjalanan Dzaky kemudian berkembang menjadi pembelajaran tentang moderasi beragama. Ia mengunjungi Kuil Baguashan dan Xuanguang Temple serta berbagai situs sejarah dan budaya Taiwan. Perjumpaan langsung dengan tradisi dan keyakinan yang berbeda ia refleksikan melalui perspektif studi agama-agama dan moderasi beragama.
Pengalaman seperti ini memberi makna baru dalam pembelajaran PAI. Moderasi beragama tidak berhenti menjadi konsep yang dibahas di kelas. Ia tumbuh melalui pengalaman memahami perbedaan, membangun dialog, dan melihat bagaimana masyarakat lain menjalankan tradisi mereka. Mahasiswa PAI perlu memiliki keberanian untuk mengenal dunia agar mampu mendidik generasi yang hidup dalam keberagaman.
Menariknya, pembelajaran Dzaky tidak berhenti pada agama dan budaya. Ia juga menyentuh isu lingkungan ketika mengunjungi pangkalan operasi dan pemeliharaan ladang angin lepas pantai Changfang-Xidao dan Zhong Neng. Di sana, ia melihat secara langsung bagaimana energi terbarukan dikembangkan sebagai bagian dari masa depan yang berkelanjutan. Sebagai mahasiswa PAI, pengalaman tersebut ia hubungkan dengan konsep khalifah fil ardh dan fiqh al-bi’ah. Manusia memiliki amanah untuk menjaga bumi. Dari sini terlihat bahwa pendidikan Islam memiliki ruang yang luas untuk menjawab persoalan global. Perubahan iklim, energi bersih, dan keberlanjutan bukan hanya persoalan teknologi. Semua juga membutuhkan landasan moral dan spiritual.
Di National Museum of Natural Science di Taichung, Dzaky kembali menemukan pengalaman yang mempertemukan sains dengan perspektif keislaman. Ia melihat bagaimana pengetahuan tentang alam semesta, kehidupan, manusia, dan lingkungan disampaikan kepada masyarakat secara menarik. Pengalaman itu ia hubungkan dengan gagasan integrasi ilmu atau wahdatul ulum, bahwa sains dan wahyu dapat menjadi jalan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Di titik inilah pengalaman Dzaky relevan dengan arah pengembangan PAI UNJ. Mahasiswa PAI tidak cukup hanya menjadi ahli dalam bidang keagamaan. Mereka perlu menjadi pembelajar yang mampu menghubungkan agama dengan sains, teknologi, lingkungan, budaya, serta persoalan kemanusiaan.
Perjalanan tersebut juga membawanya pada pembelajaran sejarah. Di 1895 Taiwan Resistance Peace Memorial Park, Dzaky mempelajari kisah masyarakat lokal yang mempertahankan tanah kelahirannya dari invasi Jepang. Baginya, pengalaman tersebut mengingatkan pada nilai kecintaan terhadap tanah air yang juga dikenal dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia.
Semakin banyak tempat yang dikunjungi, semakin luas pula cara pandangnya. Taiwan menjadi ruang belajar yang mempertemukan identitas, agama, sejarah, sains, budaya, dan lingkungan. Inilah pembelajaran yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku.
Bahkan, perjalanan tersebut memberikan dampak yang lebih luas bagi institusi. Pada 29 Juli 2026, UNJ dan Da-Yeh University menandatangani MoU pertama yang membuka peluang pengembangan kerja sama akademik dan pertukaran mahasiswa di masa mendatang. Artinya, langkah seorang mahasiswa dapat membuka jalan bagi mahasiswa lain.
Pengalaman Dzaky juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Pembelajaran lintas negara mendukung SDG 4: Quality Education melalui pengalaman pendidikan yang berkualitas dan berwawasan global. Interaksi dengan komunitas Muslim Indonesia di Taiwan memperkuat semangat SDG 10: Reduced Inequalities. Pengalaman tentang energi terbarukan dan refleksi khalifah fil ardh menunjukkan relevansi SDG 13: Climate Action. Dialog lintas budaya dan agama berkontribusi pada SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions, sementara MoU UNJ–DYU memperkuat SDG 17: Partnerships for the Goals.
Pada akhirnya, dua pekan di Changhua menjadi lebih dari sekadar program belajar bahasa Mandarin. Dzaky pulang membawa pengalaman tentang bagaimana sebuah masyarakat merawat sejarah, menghargai keberagaman, mengembangkan energi bersih, mengelola pengetahuan, dan tetap menyediakan ruang bagi kehidupan keagamaan di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Muslim.
Bagi PAI UNJ, kisah Dzaky bukan untuk berhenti menjadi cerita tentang satu mahasiswa. Justru, kisah ini diharapkan menjadi pemantik keberanian bagi mahasiswa PAI lainnya. Ada banyak peluang yang mungkin selama ini terasa jauh: pertukaran mahasiswa, short course, konferensi internasional, belajar bahasa asing, penelitian lintas negara, hingga membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai budaya. Pengalaman Dzaky menunjukkan bahwa kesempatan global dapat dimulai dari satu keberanian sederhana: berani mencoba dan berani keluar dari zona nyaman.
Tidak semua mahasiswa harus pergi ke Taiwan. Tidak semua harus mengikuti program yang sama. Tetapi setiap mahasiswa dapat memulai langkahnya sendiri—menguasai bahasa asing, mengikuti kegiatan internasional, aktif dalam organisasi, membangun jejaring, mengikuti kompetisi, melakukan riset, atau sekadar mulai berani berbicara dengan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda. Sebab, internasionalisasi PAI bukan hanya tentang siapa yang berhasil berangkat ke luar negeri. Internasionalisasi adalah tentang semakin banyak mahasiswa yang berani membuka jendela dunia. Dzaky telah membuka salah satu jendela itu. Kini, giliran mahasiswa PAI UNJ lainnya untuk melihat dunia, menemukan peluang, dan membawa pulang pengalaman bermanfaat bagi Indonesia.
Belajar agama untuk memahami dunia.
Belajar dari dunia untuk memperkaya keberagamaan.
Dan membawa nilai-nilai Islam untuk menghadirkan kemaslahatan.
Dari PAI UNJ, langkah kecil menuju dunia dapat menjadi awal perubahan yang lebih besar.


