Ketika Keterbatasan Menjadi Jalan Perubahan: Sidang Skripsi Tion Iswanto Menguatkan Komitmen PAI UNJ terhadap Pendidikan Islam yang Inklusif dan Berkelanjutan

Pendidikan Agama Islam pada hakikatnya merupakan pendidikan yang menghadirkan rahmat bagi seluruh manusia tanpa membedakan latar belakang, kondisi fisik, maupun kemampuan peserta didik. Prinsip rahmatan lil ‘alamin inilah yang terus diimplementasikan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam membangun ekosistem pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan.

Semangat tersebut tergambar dalam sidang skripsi Tion Iswanto, mahasiswa disabilitas netra Prodi PAI UNJ, yang mengangkat penelitian berjudul “Analisis Hambatan dan Solusi Mahasiswa Tunanetra dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Prodi PAI Universitas Negeri Jakarta.” Penelitian ini bukan sekadar memenuhi syarat akademik untuk meraih gelar sarjana, tetapi juga menjadi suara bagi kelompok mahasiswa disabilitas agar memperoleh hak belajar yang setara dalam pendidikan tinggi.

Sidang skripsi dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2026, dengan Dr. Andy Hadiyanto dan Ahmad Hakam, Ph.D. sebagai dosen pembimbing. Sidang dipimpin oleh Dr. Sari Narulita, M.Si. selaku Ketua Sidang, dengan tim penguji Mushlihin, M.A. dan Zulfatun Ni’mah, M.Pd. Suasana sidang berlangsung hangat dan penuh apresiasi terhadap kualitas penelitian sekaligus kegigihan Tion dalam menyelesaikan proses akademiknya.

Penelitian ini lahir dari pengalaman nyata yang selama ini dirasakan oleh mahasiswa disabilitas netra. Di antara berbagai mata kuliah yang ditempuh di Program Studi PAI, Bahasa Arab menjadi salah satu mata kuliah yang paling menantang. Sebagai bahasa yang sangat bergantung pada sistem tulisan, simbol, dan karakter huruf yang berbeda dari alfabet Latin, proses pembelajaran Bahasa Arab menghadirkan hambatan yang jauh lebih kompleks bagi mahasiswa tunanetra.

Melalui wawancara mendalam terhadap lima mahasiswa disabilitas netra, Tion menemukan bahwa proses pembelajaran Bahasa Arab selama ini lebih banyak dapat diikuti pada aspek listening melalui pendengaran pelafalan kosakata, sedangkan speaking masih didominasi kemampuan menghafal. Sementara itu, penguasaan keterampilan reading sangat bergantung pada kemampuan mahasiswa membaca huruf Arab Braille, yang belum dimiliki oleh seluruh mahasiswa. Kondisi serupa juga terjadi pada keterampilan writing, yang membutuhkan perangkat, media, dan pendampingan khusus agar dapat berkembang secara optimal.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa teknologi pembaca layar (screen reader) yang saat ini banyak digunakan oleh mahasiswa tunanetra masih lebih optimal untuk membaca teks berhuruf Latin dibandingkan huruf Arab. Akibatnya, mahasiswa harus mengeluarkan usaha yang jauh lebih besar untuk memahami materi pembelajaran Bahasa Arab dibandingkan mahasiswa reguler.

Namun, penelitian ini tidak berhenti pada identifikasi hambatan. Sebagai calon pendidik Pendidikan Agama Islam, Tion menghadirkan berbagai alternatif solusi yang dapat dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi. Salah satunya adalah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai teknologi pendukung pembelajaran yang mampu membantu mahasiswa tunanetra memahami kosakata, pelafalan, penerjemahan, hingga latihan percakapan Bahasa Arab secara lebih mandiri dan adaptif.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman dalam pendidikan Islam, melainkan sebagai instrumen untuk memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, pemanfaatan teknologi merupakan bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan kemaslahatan, sehingga setiap individu memperoleh kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu.

Selama proses sidang, para penguji memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas penyusunan skripsi yang sistematis, argumentasi yang kuat, serta keberanian Tion mengangkat persoalan yang selama ini masih jarang menjadi fokus penelitian. Lebih dari itu, semangat Tion dalam mencari solusi atas berbagai tantangan pembelajaran menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Bagi Program Studi PAI UNJ, penelitian ini menjadi refleksi penting bahwa pendidikan agama tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu keislaman, tetapi juga tentang menghadirkan nilai-nilai keadilan (al-‘adl), kepedulian (ihsan), dan penghormatan terhadap martabat manusia (karamah al-insan). Pendidikan Agama Islam harus mampu menjamin bahwa setiap mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan belajar yang setara sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.

Hasil penelitian Tion diharapkan menjadi pijakan dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Arab yang lebih inklusif melalui penyediaan media pembelajaran yang aksesibel, penguatan kompetensi dosen dalam pendidikan inklusif, optimalisasi teknologi adaptif, serta pengembangan kurikulum yang lebih responsif terhadap keberagaman mahasiswa.

Lebih luas lagi, penelitian ini menunjukkan kontribusi nyata Prodi PAI UNJ terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, SDG 4 (Quality Education) melalui upaya mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif, berkualitas, dan dapat diakses oleh semua mahasiswa tanpa diskriminasi. Kedua, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui pengurangan kesenjangan akses pembelajaran bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Ketiga, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui dorongan pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan untuk mendukung pembelajaran yang lebih adaptif. Selanjutnya, SDG 17 (Partnerships for the Goals) menjadi landasan penting dalam membangun kolaborasi antara dosen, mahasiswa, peneliti, dan pengembang teknologi untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif.

Sidang skripsi Tion Iswanto menjadi bukti bahwa riset di lingkungan Pendidikan Agama Islam tidak hanya menghasilkan temuan akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Dari ruang sidang sederhana di Prodi PAI UNJ, lahir sebuah pesan besar bahwa pendidikan Islam yang berkualitas adalah pendidikan yang membuka jalan bagi semua, menghargai setiap potensi, dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam memperoleh hak atas ilmu pengetahuan.

Karena sejatinya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari banyaknya ilmu yang diajarkan, melainkan dari seberapa luas ilmu itu dapat diakses, dirasakan manfaatnya, dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat.

Company

About Us

FAQs

Contact Us

Terms & Conditions

Privacy Policy

Features

Copyright Notice

Mailing List

Social Media Links

Help Center

Products

Sitemap

New Releases

Best Sellers

Newsletter

Contact us

Mailing

Privacy Policy

Mailing List

© 2025 Islamic Education Study Program