
Jakarta, 17 Mei 2024 – Sebanyak 76 mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (PPKN FIS UNJ) melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) pada 13–17 Mei 2024. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menekankan pengalaman empiris di tengah masyarakat. Melalui KKL, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan realitas kehidupan sosial. Mahasiswa juga dilatih untuk melakukan observasi dan analisis terhadap berbagai fenomena sosial yang ada di masyarakat. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga kontekstual dan aplikatif
Pada kegiatan KKL tahun ini, lokasi yang dipilih adalah Desa Ngadas yang berada di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Desa ini terletak di kawasan kaki Gunung Bromo yang terkenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Kegiatan ini didampingi oleh 4 orang dosen Program Studi PPKN UNJ yaitu Dr. Yuyus Kardiman, M.Pd., Yasnita, S.Pd., M.Si., Iqbal Syafrudin, S.Pd., M.I.P, dan Dwi Afrimetty Timoera, M.H. serta dibantu oleh 1 orang tenaga kependidikan yakni Yanto. Para dosen memberikan arahan dan bimbingan kepada mahasiswa selama proses penelitian di lapangan. Pendampingan ini bertujuan agar kegiatan penelitian mahasiswa dapat berjalan secara sistematis dan sesuai dengan kaidah akademik.



Pelaksanaan KKL tahun 2024 mengangkat topik penelitian mengenai keunikan sosial dan budaya masyarakat Desa Ngadas. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana masyarakat setempat mampu mempertahankan adat istiadat di tengah perkembangan pariwisata. Berbagai tradisi dan nilai budaya masih dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini menunjukkan kuatnya peran budaya lokal dalam menjaga identitas masyarakat desa. Keunikan tersebut menjadi bahan kajian yang relevan dalam perspektif pendidikan kewarganegaraan.
Selain itu, Desa Ngadas juga memiliki karakteristik menarik dalam aspek kehidupan beragama. Mayoritas masyarakat desa ini memeluk agama Hindu dan masih menjalankan berbagai ritual adat masyarakat Tengger. Menariknya, desa ini berada di tengah wilayah yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam di desa-desa sekitarnya. Perbedaan latar belakang agama tidak menjadi penghalang bagi terciptanya kehidupan sosial yang rukun. Kehidupan masyarakat di Desa Ngadas mencerminkan praktik toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Selama kegiatan KKL berlangsung, mahasiswa melakukan berbagai kegiatan akademik di lapangan. Mahasiswa melakukan observasi langsung terhadap kehidupan masyarakat dan lingkungan desa. Selain itu, mahasiswa juga melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat dan warga setempat. Diskusi dan pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai kondisi sosial budaya masyarakat Desa Ngadas. Proses ini menjadi bagian penting dalam kegiatan penelitian lapangan yang dilakukan mahasiswa.
